A Story about a Boy in Perth, 3 July 2011

Okay, it’s my 2nd day in Perth. I woke up 9.30 today. I have a story about my first night at Perth by the way. Aku lupa ternyata hari pertama kemarin aku datang ke Perth itu hari Sabtu. Malamnya aku memang rencananya cuma tidur aja. I took a sleep at 9 pm. Very early, huh? I had one hour of good sleep, and then I woke up because it was very noisy in the room and also outside the hostel. Roomates yang tadinya aku belum ketemu ternyata baru pulang, dan baru bangun. Yup. Ada yang baru pulang dari pergi entah darimana, dan ada yang baru bangun dan mau pergi ke club. Yep, it’s Saturday night. I stayed in inner city, near downtown, jadi anak-anak muda disini, including some of my roommates pada party ke club dari malam sampai pagi. Terima ngga terima, I have to accept this situation. What do I expect? I won’t join them anyway. I was so damn tired last night. They’re also a little bit wild. Alex, salah satu roommate ku, bahkan ngundang temen ceweknya buat nyamperin dia sebelum ke club, and what did they do? They kissed in the room. God, this is a joke. Haha. And they went out, Egor, Alex, Gium, and one French guy that I forget his name.

Terlanjur kebangun, dan agak susah merem lagi, aku ambil majalah aja dari tas, pengantar tidur. Ternyata ada satu roommate yang masih bangun dan dia ngajak ngobrol. He’s a mixed of African-American, named Edwa or Eddy, I don’t know, I’m bad in remembering names. Kita ngobrol tentang konsep keliling dunia dari jam 10 sampai jam 1 pagi. You know what? He has already traveled to 53 countries all over the world. He’s doing some business I don’t know what. Dia bilang, supaya jadi orang hebat, kamu harus sekolah tinggi, dan sekolah informal yang tinggi juga. Sekolah informal? Yes, you’ll get it from traveling. Okay. Good point. The best way to learn something is by doing it, right? To have direct experience. So it’s not only about theories, but also how to practice. Ah, nice conversation. And then I slept until 9.30 am. Mandi, pakai air hangat of course. It’s time to start my 2nd day in Perth. (Hari ini hari pertama aku pakai winter clothes by the way. Pake baju berlapis. Kaos, sweater, kemeja, terus pake long coat, plus wool gloves. Ah, this kind of things I won’t wear in Indonesia. Hahaha)

It is Sunday now. Hari ini ada welcoming party dari WPSC secretariat sekalian registrasi jam 2 siang. Sebelumnya, jam 10  aku pergi dulu sama Egor ke Murray street buat belanja. Kami mau beli roti sama selai buat sarapan sehari-hari. Ternyata Woolworth yang jadi tujuan kita masih tutup dan baru buka jam 11. Dia mau balik dulu ke hostel dan balik lagi jam 11, but I decided to stay in Murray street to have some sightseeing. Lagipula aku udah janjian sama Mba Tiwi jam 11 di Murray street juga. Selagi nunggu jam 11, aku ke Discount Worldbook which is also located in Murray street. There are a lot of books there, but I didn’t find any book that will support my study. So I left it in empty hand. Ternyata jam 10.30 Mba Tiwi udah nongkrong di Gelare Café, persis di sebelah toko buku. So I met her, and we took breakfast there. Actually, I only took a cup of caffe latte which had cost me $3,80 AUD. It is so expensive for me. Hampir Rp.40.000,- kan? Hiks.

Then we decided to go to Woolworth and I bought a bunch of breads which only cost me $1 AUD, and I also bought peanut butter for $2,83 AUD. Well, this is the cheapest way for me to save my money, dengan sarapan roti di hostel aja. Setelah belanja bareng Mba Tiwi, aku balik dulu ke hostel, naruh barang, terus ke dapur bareng Egor and we spent an hour having breakfast together with other backpackers. Seru banget. Aku juga kenalan sama Rebecca dari Jerman. We had fun conversation. And then I went at 1 pm to meet Mba Tiwi. Kami mau jalan-jalan dulu keliling pedestrian mall sebelum ke convention hall. Well FYI, di sekitar hostel ku itu ada termasuk dalam kawasan yang namanya City of Perth which is consists of Murray St, Hay St, Barrack St, and King St. Jadi itu kayak pedestrian mall yang isinya macem-macem mulai dari toko fashion, toko buku, plaza, toko oleh-oleh, café, restoran, dan lain-lain. Tapi City of Perth ngga cuma itu, itu cuma sebagian kecilnya. Jadi itu kayak district khusus yang memang lagi dikembangkan sama pemerintah Western Australia.

Emang beda ya namanya negara atau kota maju. It’s really comfortable, I think. Di Perth, to go from one place to another place, you can go by walking or take public transport like bus (di Perth ada jaringan public bus named TransPerth). Everyone seems enjoy it, walking in pedestrian way. Healthy city, huh? Dan aku? Sempet ngos-ngosan. Haha. Orang disini jalannya bisa cepet-cepet banget. Disini juga mix banget orang dari berbagai negara. Susah lah ngebedainnya. Bahkan orang-orang yang kerja kayak jadi kasir, pegawai toko, itu belum tentu orang Australia. Kayak roommates ku, disini mereka jadi backpackers, mereka juga kerja disini. Mereka butuh uang buat travel ke negara lain lagi, atau buat pulang ke negara mereka. So, they have to work. Really tough, huh? Salut deh. Memang kebanyakan orang-orang Eropa itu dibebaskan oleh orang tua mereka buat nyari pengalaman sendiri dengan traveling kayak gini. Selain dapet pengalaman, mereka juga dapet network, dan daya adaptasi mereka itu kuat banget. Terbukti dengan aku yang masih takut-takut buat berinteraksi dengan orang disana, but they’re not. Even they can talk to strangers easily without worrying anything. Tapi buat aku sendiri, lebih baik aku tetep waspada dulu lah. This is my first experience though.

Jadi jam 2 aku sama Mba Tiwi pergi ke Perth Convention Exhibition Centre, di 21 Mounts Bay Road. Cuma 10 menit jalan kaki dari kawasan hostel ku. Nice, huh? So we did the registration. It’s very quick, by the way. Aku dapet tas, dan panduan seminar, brosur-brosur, beberapa surat informasi, dan dapet kartu travel TransPerth gratis. Jadi aku bisa pakai TransPerth gratis kemana aja sampai tanggal 10 Juli. Wow. I’ll try it later. Haha. I also checked the wi-fi connection there. Ternyata dapet free username dan password dari panitia, jadi bisa akses gratis setiap hari pas hari seminarnya. Yey! Imagine this. I have to pay $1 AUD for each 15 minutes everytime I want to access the internet from the hostel. Itu sekitar Rp 9.000,- dan kalo di Indonesia, itu udah bisa dapet buat 3 jam kan? Oh, God. Living cost disini emang mahal banget. Jadi ngerasa sedih banget ngebayangin rupiah. Hiks. Konon katanya rupiah tuh untungnya cuma kalo ditukerin sama Vietnam. Jadi, ibaratnya kalo kita nuker setumpuk tebel rupiah, baisanya dapetnya cuma beberapa lembar duit kurs lain, tapi kalo nuker ke mata uang Vietnam, well, lembarannya bakal nambah. Get it? Haha.

Habis dari convention hall, aku pisah dulu sama Mba Tiwi. Dia ke Borders Bookstore di Hay street, aku balik dulu ke hostel mau naro tas. Bayangin, aku udah bawa ransel isi laptop, dapet tas dari WPSC, dan nenteng tas kamera, plus tas pinggang juga. I was like an idiot. Setelah naro barang di hostel, aku ketemuan lagi sama Mba Tiwi di toko buku itu. Aku cuma bawa tas WPSC, tas pinggang, sama kamera. It’s better. Habis itu kami balik lagi ke Perth Convention Exhibition Centre (PCEC) karena jam 4.45 sore kami harus naik ke bus TransPerth yang udah disewa untuk nganter kami ke University of West Australia buat acara welcoming party. Great.

University of West Australia keren banget. Arsitektur bangunannya keren, semacam renaisans bangunan tua yang gaya-gaya katedral dan kastil Eropa. The hall? Pernah liat ruang utamanya Hogwarts di Harry Potter? It’s similar. Cool, right? Area universitasnya gede banget. Aku cuma ngeliat sebagian kecil dari itu. Fiuh.

Selama welcoming party, kami dijamu dengan berbagai minuman dan hidangan. I had two glasses of red wine, by the way. It was really good. I also took so many light food that I never try before. Jadi konsepnya standing party, dan pelayan-pelayan berkeliling nawarin berabagai menu. Aku ngga pernah inget apa namanya, tapi aku nyoba beberapa hidangan kayak salmon, ayam, domba, keju, dan berbagai makanan yang aku belum pernah coba. Enak!

Di sana aku juga dikenalin sama Mba Tiwi ke beberapa relasinya. Ada Peter dari Belgia, dia baru aja nyelesein pendidikan doktornya (harusnya aku manggil Prof, tapi dia orangnya asik banget). Dia dateng sama istrinya. Aku sama Peter sempet ngobrol banyak banget tentang pendidikan. Seru banget. Terus aku juga kenalan sama Antonio dari Itali, dia ternyata juga ketua semacam komunitas pelajar pemuda di region universitasnya. Cool. Aku juga kenalan sama Kataryzna (read: Kasya). She’s beautiful, by the way. Dia dari Polandia dan kami ngobrol tentang fokus studi kami masing-masing. Aku juga kenalan sama Head of Department salah satu fakultas Arsitektur dan Urban Planning di Polandia, dan aku lupa namanya. They were all surprised knowing me that I’m a fresh graduated from bachelor degree. They said that I was really clever to take this kind of experience. I have no idea, I don’t know if I’m the youngest person in the conference because everyone looks very mature and old in my eyes, but I think it’s a good thing for me.

Setelah beberapa sambutan dari chairman of the committee, ngobrol lagi sebentar sama beberapa kenalan tadi, kami pulang difasilitasi TransPerth lagi. Peter dan istrinya ngajak Mba Tiwi dan aku untuk ke café sebelum pulang ke hostel masing-masing. Well, why not. It’s still 7.30 pm by the way. So we took a walk and searched for café. Dan aku baru inget kalo di sini most stores are closed in between 6 or 7 pm. Akhirnya kami ke restoran tempat Peter nginep, which is Criterion Hotel. So, we’re having some drinks at Criterion Restaurant. I was so frightened because something. You know? The price. Dan jelas aja. Makanannya paling murah $12 AUD dan ada yang sampai $50 AUD ke atas. Namanya juga resotran bagus. Hiks. Untung harga minumannya masih cukup wajar. Jadi aku pesen hot chocolate dengan harga $4,60 AUD. Tetep aja mahal kalo dikonversiin ke rupiah. Di Indonesia sih coklat anget sembilan ribu juga dapet, bahkan di warung malah tiga ribu juga udah dapet coklat anget. Hiks. Kami berempat ngobrolin mulai dari Bali, Indonesia, dan Belgia. Kami ngomongin karakteristik hometown kami masing-masing mulai dari budaya, sejarah, bahkan sampai ke politiknya. Duh berat banget ya, maklum lawan bicaraku umuran 30 ke atas. Setelah obrolan seru tadi, udah jam 9 malem ternyata. Jadi kami sepakat buat menyudahi obrolan dan pulang ke hostel. Thank God ternyata semua dibayarin sama Peter, so I can save few dollars. Lucky me.

So, I walked back to hostel. It’s very quite all along the way. Sepi banget, padahal baru jam 9 waktu setempat. Dan menurutku ini sisi ngga asiknya di sini. I felt a little bit insecure when I was walking back to hostel. Ada orang mabuklah, orang minta duit supaya dia bisa naik subway lah. Ah, perlu ekstra hati-hatilah pokoknya. Di sini ngga jarang ada polisi nangkep pemuda-pemuda berandal yang mabuk-mabukan dan mulai nggangguin orang lain, dan semacam itu. But I got to hostel safely. Di courtyard hostel, ada beberapa anak muda yang lagi party deket swimming pool, nyetel musik kenceng banget. Well, itu biasa di sini. They can do everything they want maybe.  Aku langsung masuk kamar, ngobrol ringan sebentar sama Gium dan Edwa. Terus sempet ngobrolin tentang bola juga sama Alex, Luwik, and two French guys that I don’t know their name. Haha. And here I am, writing this note. I better go to sleep now because I have to attend the conference at 8.30 am. See you, and miss you guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s