A Story about a Boy in Perth, 4 July 2011

Hello Indonesia, regards from Perth. It is 8.43 pm now while I’m writing this on Luwik’s bed (one of my roommates). Colokan kabel buat nge-charge laptop deket sama kasurnya, jadi numpang nyender di kasurnya deh. Haha. It’s my third day in Perth anyway. I’m getting used to the situation here. Well, I have to. I still have more days here.

Today, I woke up at 7 am. Damn. Yes, I have to go to the conference at 8.30 am, so I have to prepare myself a bit earlier. Hari ini kerasa lebih dingin dan kerasa banget waktu mandi meski udah pake air anget. Begitu selesai mandi rasanya kayak menggigil. After I dressed, I went to the hostel’s kitchen for having a breakfast. Cuma ada satu cewek lagi makan cereal dan aku sendiri di dapur. We didn’t talk anyway, we’re just smiled to each other. Ya, yang penting sopan lah. Sarapanku hari ini cuma roti sama selai kacang yang aku masak lagi di microwave. Did I tell you that I bought this bunch of breads and peanut butter yesterday? Well. It will be like this every morning.

When I was looking to my watch, it’s already 8.30 am surprisingly. Ah, I was late for the conference! Habis aku siap-siap lagi di kamar, aku jalan dari hostel (in a rush, of course) ke Perth Exhibition Convention Center (PCEC). I just realized that it’s Monday today. Jadi jalanan (pedestrian ways) rame banget orang-orang jalan kaki berangkat kerja. I love the passion how I walked together with them. You know what? Ternyata orang-orang sini jalan cepet-cepet itu juga ada alasannya. Selain memang sudah terbiasa dengan tempo aktivitas yang cepat, mereka juga jalan dengan cepat agar tubuh mereka terasa lebih hangat. Reasonable, huh? It’s Australian winter, now.

I made it to PCEC at 8.55 am. Lucky me, the conference had not been began yet when I arrived. Aku sempet ambil kopi dulu sebelum masuk ke Riverside Theater, which is the hall that was used for the opening of the conference today. Aku sempet ketemu orang Indonesia di morning drink, namanya Mba Widya, dosen dari Itenas, dan dia temen satu angkatannya Pak Imam Buchori (mati lah saya ditanya-tanyain). Setelah itu kami bareng ke Riverside Theater untuk ikut pembukaan dan sambutan  plus paparan dari dua keynote speakers. Acara dibuka sama Paul J. Maggin, PhD MPIA sebagai program coordinator. And next is interesting. Ternyata di setiap acara remsi di Australia, selalu ada pembukaan ada sambutan dari orang yang dianggap masih punya darah asli keturunan Aborigin (if I’m not mistaken, karena di welcoming party kemarin juga ada sesi kayak gini). Jadi ada orang yang ngomong campur-campur pake bahasa tradisional, terus di-translate ke bahasa Inggris. Sambutan selanjutnya dari Prof. Alan dari University of Western Australia, terus sambutan dari Dr. Johanna Looye dari GPEAN Steering Committee, lalu sambutan dari Miss Don (I don’t know who she is). Habis itu audience ditunjukin video dari Government of Western Australia tentang city planning di Perth. And you know what? Pemerintah setempat sedang mengembangkan kawasan yang disebut sebagai City of Perth (which I told you, yesterday). Ternyata kawasan ini masih menjadi project yang dikembangkan sampai sekarang. It is now being worked, constructed, revitalized, dan implementasi dari konsepnya udah kerasa bahkan sebelum semua rencana yang ada di video itu selesai dikerjakan. Cool, huh? Compare it to Indonesia? Well, you know by yourself. We have to be optimist, anyway.

Ada cerita menarik juga dari sambutan-sambutan tadi. Cobalah bertanya tentang petunjuk jalan atau kamu mau kemana pada semacam penjaga toko, tourist information, dan sejenisnya di Perth atau bagian mana di Australia. Mereka akan mengawalinya dengan “The CBD is here, you are here, and if you want to go here, blablabla…” You get what I mean? It’s really uncommon for non-planning oriented people to understand such things or terms like CBD. But Australian people do understand. It is said that Perth is one of the most livable cities by the way. I’m in planning paradise!

Well, the education part still continues. The first keynote address was presented by Prof Robert Freestone dari University of New South Wales, titled “Teaching Tommorowland”. Jadi dia cerita tentang sejarah konferensi planning, di Australia pada khususnya. Ternyata di Australia sendiri, the first town planning conference was held on 1917 in Adelaide. Di Indonesia, planologi ITB aja baru dibuka tahun 1959. Udah ketinggalan duluan ya dunia perencanaan Indonesia? Hiks. Ngeliat perkembangan Perth sendiri di slidesnya Prof Robert, Jakarta sekarang kayak Perth tahun 1970-1980-an mulai dari bangunan tingginya including buruk-buruknya. Ledakan penduduk yang membuat kepadatan ngga kekontrol, ruang hijau yang kurang, yeah, that’s what’s happening in Indonesia. Tapi di 1990-an, Perth sendiri berkembang positif dalam mengendalikan keseimbangan bangunan tingginya dengan ruang hijau, public spacesnya, dan semua berangkat dari kebijakan pemerintahnya yang punya konsep jelas dan realisasi yang nyata. Klise ya? Ujung-ujungnya balik ke sistem politik dan komitmen pemerintah, which is agak nyesek kalo inget pemerintahan Indonesia saat ini.

Poin menarik lagi dari Prof Robert adalah, ada empat methodological approach yang harus dikembangkan zaman sekarang, yaitu: urban design, IT + GPS, participatory collaboration, and sustainability-based (environmental). Keinget sesuatu ngga? Hehe. Pas banget sama empat lab yang ada di Plano UNDIP. Itu semua sudah terakomodasi di lab rancang, lab geomatika, lab kota, dan yang terakhir ada di lab wilayah. Good signal for our department. Prof Robert juga menekankan bahwa masa depan perkotaan saat ini ada di tangan mahasiswa perencanaan. Maka pertanyaannya adalah, “How well does the curriculum handle the question of forward planning issues and methods?” So, kalo emang tulus mau berkontribusi di dunia perkotaan, sebagai mahasiswa calon planner, memang harus bener-bener serius nyerap ilmunya supaya bener saat praktiknya nanti. Sounds hard, huh? It is our challenge.

The second keynote address is presented by Mr. William Cobbett sebagai manager dari Cities Alliance, USA. He presented ‘Formalizing the Informal: Preparing for a World of Cities’. Inti dari paparannya adalah bahwa planner itu mutlak dibutuhkan untuk mengantisipasi populasi penduduk perkotaan yang akan terus bertambah terutama di negara-negara berkembang (baik kelahiran maupun migrasi dari desa ke kota). Tanpa kebijakan dan rencana yang jelas, setiap orang akan berebut berbagai sumber daya untuk kepentingan mereka sendiri. Planner harus bisa mentransform kebijakan-kebijakan yang saat ini didominasi oleh kebijakan sosial agar bisa lebih teknis dan jelas bagaimana caranya untuk mengendalikan perkembangan penduduk dan perkotaan. “Start with the facts of the condition now” he said. Jangan buat rencana yang out of date, atau bahkan yang far from reality now. Mr. William juga berpesan  bahwa sebagai planner yang ada di pemerintahan, boleh untuk punya prioritas dalam menentukan proyek mana dulu yang harus dikerjakan di suatu kota, tapi jangan lupa bahwa seluruh bagian dari kota harus tetap menjadi perhatian dalam artian jangan sampai meninggalkan bagian kota yang dianggap sudah ‘oke’. In the end of his keynote presentation, he said “Don’t look for magic”, which means, jangan asal-asalah membuat rencana. Ugh, kena banget rasanya ngebayangin suka seenaknya bikin konsep rencana buat suatu kawasan atau apalah, intinya yang penting jadi. Good point.

Agak berat ya bahasannya? Well, I just want to share about the education side about planning that I got here. Setiap hari aku bakal ikut seminar dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore selama WPSC 2011 ini. By the way, aku bisa hemat uang makan siang plus snacks yang enak-enak banget selama conference. Di sini aku pribadi juga punya tujuan growing my network. Ya, kenalan sama orang-orang dari berbagai negara sounds cool enough for me, especially when we have same interests. You know what the funny thing is? Jadi setiap kenalan sama orang-orang waktu coffee break gitu, semuanya adalah orang-orang yang sudah di tahap edukasi tinggi. PhD candidates lah, professor lah, researcher, senior lecturer, and so on. Dan saya sendiri selalu di-encourage untuk tetap pede dengan status baru lulus dan even belum di wisuda. Tuhan Yang Maha Kuasa. What am I doing here!? Antara bangga sama malunya itu lo.

Aku manggil mereka langsung pake nama, like what they do, right? Ngga ada yang namanya manggil prof, sir, miss, atau apalah. Asiknya, mereka enjoy-enjoy aja dan akrab gitu loh sama anak muda kayak aku gini yang udah kurang ajar manggil nama mereka langsung. Haha. Bless me. Well, I did some conversations and exchange email address sama Mba Widya, dosen dari Itenas (I mentioned her already), terus sama Cole Hendrigan (researcher dari Canada yang sedang kerja di Perth), Mba Irina dan Mba Siti (orang Indonesia yang lagi studi PhD di Australia) (Ya, aku manggilnya Mba, padahal mereka seumuran sama dosen kita. Screw me -,-). Terus kenalan juga sama Jenny, senior researcher dari University of Stuttgart, Germany. Aku juga ngobrol sama Piotr Lorens, Head of the Department of Urban Design and Regional Planning in Gdansk University, Polland, yang kemarin juga ketemu di welcoming party di University of Western Australia. Terus ngobrol juga sama Rebbeca, researcher dari Alabama, USA. Aku ngobrol tentang semua yang berbau planning, studi yang pernah dilakukan, dan hal-hal seru lainnya. Passion! Yang lucu aku juga sempat ngobrol sama Antonio Recili, seorang Italian, dan karena dia dari Itali, yang aku inget cuma Milan (yeah, including the football team, AC Milan). And you know what his reaction was? Mukanya langsung males dan bilang “Ah, everyone always talks about Milan, Milan, Milan, and Milan”. Ternyata dia tinggal di selatan Itali, dan Milan itu ada di utara (dan lebih berkembang tentunya. And I know his reason why he’s not really interested talking about Milan. Hahahaha)

Setiap hari selama WPSC 2011, akan selalu ada tiga sesi seminar paralel dan aku bebas milih track yang pengen aku masukin. Today, I was in session 1A (Dimensions of Community Development and City Planning, Public Studies, and Housing) and then I joined session 2B (Spatial Policies and Land Use Planning), and after that I entered session 1C (Community Planning Theories and Studies). Aku sempet tanya sama salah satu presenter di sesi pertama (and I was really afraid at first before I could convinced myself that this is my chance to experience giving questions in this seminar). Aku tanya ke peserta dari Spanyol, namanya susah banget diinget, tapi mukanya kayak Jose Mourinho pelatihnya Real Madrid. Ya, diskusinya tentang masalah housing di kota-kota besar di Spanyol, dan aku membandingkannya dengan di Indonesia. Lega rasanya ternyata komen ku bisa dimengerti dan dia kasih respon yang bagus juga. Well, I have to be really careful while paying attention to people speaking English here. Why? Karena tiap orang dari tiap negara punya aksen bahasa Inggris yang berbeda-beda. Dari pengalamn tadi, aksen bahasa Inggris yang agak susah dicerna itu kalo yang ngomong orang Jepang, Taiwan, Afrika Selatan, bahkan Spanyol sendiri. Oh ya, Australian English also a bit hard to understand karena mereka kayak ada aksen British-nya, jadi agak-agak muka bego deh kalo dapet temen ngobrol yang kayak gitu. Maka sering-seringlah berkata, “Pardon? Sorry? Can you repeat once again? Huh? What? Sorry again?” Ah okay, forget it.

Setelah conference, aku, Mba Tiwi (masih inget? Temen jalan sejak hari pertama di Perth), Peter dan istrinya, sepakat buat makan malem bareng. Mba Tiwi terus-terusan mbisikin aku nanya budget buat makan aku berapa, kalo ujung-ujungnya ke restoran lagi gimana, kalo aku duitnya kurang bilang aja, dan hal-hal kayak gitu. Wah, beruntung banget lah aku dapet temen seminar kayak Mba Tiwi. Karena dia sendiri ikut seminar ini fully supported dari universitasnya di Belgia, jadi dia tinggal bawa kuitansi-kuitansi selama di Perth dan nanti diganti sama universitasnya. Enak ya? Kami baru jalan pulang dari PCEC sekitar jam 6.30 pm. Well, akhirnya kami makan di restoran korea, namanya Arirang yang letaknya di Barrack St, deket sama hostel ku, hostel Mba Tiwi, dan hotel Peter juga. Harganya ya gitu deh. Rasanya pengen nangis kalo terus-terusan ngonversiin dolar Australia yang aku keluarin di sini ke rupiah. Aku makan Kimchi Bogku Bap (semacam nasi goreng campur ala korea) seharga $15,9 AUD dan minum Korean Green Tea seharga $3,5 AUD. Silahkan di rupiahkan ($1 AUD = Rp. 9.310,- waktu aku nukerin). Ya, kalemnya, porsinya besar dan enak banget masakannya. Jadi ya sudahlah. Haha.

Another interesting fact di Perth adalah, bahkan orang Amerika dan Eropa juga bilang bahwa living cost di Perth itu amit-amit mahalnya. Mereka aja ngomong gitu, lah aku? Hiks. Miskin, miskin deh di sini kalo jadi turis. Beda sama orang yang tinggal lama, menetap, atau berencana kerja selama di Perth. Kenapa? Ternyata kalo kamu kerja di Perth, gajinya itu juga tinggi. Bahkan, sebagai bartender atau pelayan aja buat kerja sampingan (which is my roommates doing selama di Perth), mereka digaji $20 AUD per jam. Roomate ku juga ada yang kerja di konstruksi bangunan, (kalo di Indonesia itu jadi kuli), itu digaji $15 AUD per jam (coba bayangin kuli di Indonesia per jam nya digaji berapa sih? Bahkan ada yang cuma 10.000 rupiah bahkan kurang). Jadi, pengeluaran sama pemasukan di Perth worth it kan? High expenses for living cost, but you also get high incomes from the wages. Pertamanya aku sempet mikir kalo dipandang dari segi biaya hidup, sisi livable city nya Perth itu bikin sakit hati, tapi setelah tau bahwa di sini upah kerjanya tinggi, ya aku cukup paham. Well, that’s why semua roommates ku yang notabene backpackers itu kerja selama di Perth, dan bahkan Johns (salah satu orang Kanada di kamarku), sampe punya tiga kerjaan sekaligus. Ah ya, ngomong-ngomong tentang roommates, aku baru sadar ternyata aku masuk di kamar yang isinya untuk 16 orang. HAHAHAHAAHA. Aku pikir pertama kali masuk ke Room 25, itu cuma buat 10 orang. Tapi aku sempet iseng bikin sketch layout kamarku, dan ngasih nama di setiap ranjang yang aku gambar supaya aku inget nama-nama orang di kamar ini, dan aku baru sadar ternyata aku orang ke-16. Hail Globe Backpackers!

What a long story, huh? I’m sorry if it’s boring or what. But I’ll try my best to tell you about my another stories later. Well, sepulang dari restoran, sekitar jam 8 pm, masuk ke hostel, dan seperti biasa, ada anak-anak muda yang party all night long di courtyard. Di kamar sempet ngobrol sama Gium dan Edwa. Kenalan sama roommates yang baru sempet kenalan, ada Evans dari Prancis dan Johns dari Kanada. Trus lanjut ngobrol sama Alex dan Egor. And then I wrote this note. Well I wrote this note on Monday, but I’ll send it to emails and facebook on Tuesday.

Belum sempet kemana-mana lagi nih. Semoga ada cerita seru selanjutnya. See you guys. Have a nice day.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s