A Story about a Boy in Perth, 5 July 2011

Hi everyone. It’s Tuesday now when I’m writing this note. It’s my 4th day in Perth. Ngga kerasa ya. Today, I woke up a little bit late, it’s about 7.40 am karena hari ini conference nya baru mulai jam 9 pagi dan ngga ada morning coffee. Oh ya, pengen cerita. Kebiasaan orang luar yang terbiasa sama musim dingin, itu sebaiknya mandinya malem sebelum tidur, tapi kalo memang paginya kerjaan menuntut muka fresh, ya mereka mandi pagi. Pada intinya adalah, musim dingin itu mandi cukup sekali sehari, atau dalam kata lain jangan sering-sering mandi karena bikin kulit jadi tambah kering. Padahal di Indonesia juga mau musim apa juga mau mandi juga males. Hahaha.

Pagi ini aku ngga sarapan di hostel. You know why? Sakit perut. Hahahaha. Jadi, tujuan pertama begitu nyampe PCEC (tempat kongres), adalah, yup, toilet. Well, I’m sorry if the topic is disgusting or what, but I think it will become good information for you if I explain about the toilet’s characteristic here. Yup, penting banget ya bahasan saya. Hahaha. Entah dengan alasan apa toilet pipis di male toilet (ya iyalah saya ngebahasnya toilet cowok), itu pendek banget. You know what I mean? Untuk ukuran bule, yang tinggi ya pastinya, itu baik toilet duduk atau toilet berdirinya, itu pendek. Jadi buat pipis aja, jarak ‘nembak’ nya itu ‘jauh’ (bagi saya yang punya tinggi tubuh 180cm). And worse, sekat toilet berdirinya itu ngga ada. Jadi kayak pispot pendek gitu dan kalo ada orang lain pipis nyebelahin kamu, yeah, kalian bisa saling ‘intip’ kalo mau. Hahahaha. Well, that’s a bad joke. I’m sorry. And in case kalo yang ngga terbiasa dengan toilet western yang harus pake tisu, berbekalah hand sanitizer kemana-mana. Okay, enough with this information.

Well, mulailah seminar paralel hari ke-2. Pagi itu aku ambil sesi 4A: Architecture, Design, and The Community Development Landscape and Emerging Challenges in the Public Housing Sector. Ah, ternyata ada Prof Robert Freestone dari UNSW yang kemarin jadi keynote speaker dan dia juga sempat membahas modern gentrification, and it’s an important information for me of course. Oke. Ada satu kejadian awkward di sesi 4A. Remember when I told you that some English accent could be hard to understand. Jadi ada presenter dari Jepang yang agak kesulitan untuk pronounce English dengan jelas dan kami satu ruangan hening waktu dia harus jawab pertanyaan dan dia nyari translation program Jepang-Inggris di laptopnya. Sorry to say, tapi itu satu ruangan mukanya kayak antara kasian sama ‘krik-krik’. Ah, but he did a good presentation by the way.

Habis sesi pertama (sesi 4 jika dihitung dari awal seminar) di hari selasa, aku bolos sesi berikutnya (sesi 5) demi ngupdate note, ngupload foto, sama ngedit presentasi buat besok Rabu. Ditambah lagi, topik yang aku fokusin (housing and community development) emang lagi kosong. Sebenarnya bisa masuk ke ruang-ruang dengan topik lain, tapi aku bolos aja dulu. Ampuni aku. Habis ngurus semua yang tadi aku bilang di lobby convention centre, aku ketemu sama Bertrand de Foucald dari Prancis. Kami ngobrol karena kami sama-sama sering ada di ruang topik housing and comdev itu tadi dan kami ngobrol banyak tentang interest kami di bidang planning. And you know what? Dia kerja di organisasi yang didanai dan disupport UNESCO, dan dia nawarin aku kerja setelah aku selesai kuliah master degree-ku. Tuhan Maha Besar. Tapi ya ngga semudah itu pastinya. Well, we’ll see what it will be. I see that as an opportunity and challenge at the same time. Wish me luck.

Masih 10 menit sebelum lunch, aku nunggu sambil ngobrol sama Antonio Raciti dari University of Catania, Itali (yup, yang males sama yang namanya Milano, hehe). Ah, ya, makanan yang disajikan di sini ngga spesifik ala apa sih, mix antara western dan eropa. And don’t expect for warm food even in winter wheather like this. Makanan yang disajikan memang kategori cold food, I don’t know why, mungkin memang biasa di sini. Yang pasti, enak, dan gratis, dan sepuasnya. Hehe.

Habis lunch (and I ate a really big portion of food), aku cuma duduk-duduk di lounge sambil ngamation orang-orang ngobrol. Sesi berikutnya baru mulai jam 2 siang dan aku lagi males ngobrol, I don’t know why. Aku berpikir bahwa aku bersyukur banget dapet kesempatan kayak gini. Well, aku ke Perth memang bukan untuk liburan, tapi untuk ikut konferensi WPSC 2011. Namun bonusnya dari perjalanan ini emang ngga keukurlah pake materi. Indeed, ngga sedikit yang harus dikorbankan untuk nekat sampe ke Perth, atau luar negeri lah. Ya, emang semua masalahnya balik lagi ke uang. Bagi seorang Indonesia dari kelas menengah biasa kayak saya, mikirnya seribu kali pas ngambil kesempatan ini untuk berangkat atau ngga. Aku juga ngga tega ngebebanin orang tua. Tapi kata Papa, “Jangan terlalu mikir habisnya nanti, ya tetep ada batas pengeluarannya. Tapi kamu harus lihat dunia di luar sana. Banyak yang kamu ngga tahu.” Aku nangkep maksudnya. Like I said before, pengalaman memang berharga. Bahkan sebagai mahasiswa planning seperti saya, saya dapet ilmu tata kota yang banyak banget dengan hanya berjalan-jalan keliling kota. Ditambah lagi saya dapet kesempatan untuk jadi delegate dan speaker di WPSC 2011. Bless me. Di sini saya jadi semakin punya motivasi bahwa saya harus sukses. Ngga cuma buat diri saya sendiri supaya suatu saat nanti saya bisa ngalamin berbagai experience baru di negara negara lain, tapi saya pengen ngasih kesempatan ke anak saya nanti. Saya pengen anak saya suatu saat juga bisa belajar dari cara-cara kayak gini, berani untuk mencoba pengalaman kayak gini, dan saya mampu membiayainya. Amin.

Selain itu, saya juga keinget obrolan sama Peter waktu makan malem di restoran korea kemarinnya. Dia nanya apakah semua orang Indonesia memang bisa berbahasa Inggris selancar saya? Padahal saya sendiri bahasa Inggrisnya kacau balau, I don’t know. Tapi at least saya tau maksud pertanyaannya. Dan sayangnya, saya masih menjawab bahwa memang ngga semuanya lancar berbahasa Inggris. Bukannya gimana, tapi saya beneran ngerasa miris ngejawabnya. Saya pernah dikatain ngga usah sok-sok an suka pake Bahasa Inggris lah, nanti anaknya ngga usah dibiasain diajak ngomong pake Bahasa Inggris supaya ngga lupa Bahasa Indonesia lah, dan jujur saya jengkel. Terbukti, mau seburuk apa Bahasa Inggris di mata orang, mau ngga mau, Bahasa Inggris emang mutlak diperluin kalo kamu mau selamat di dunia internasional, baik secara profesional, maupun hal sepele kayak traveling bahkan di negara atau ketemu orang yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris. Saya sendiri jadi ngerasa saya harus ningkatin Bahasa Inggris saya lagi kalo ngga mau kesulitan. Believe me. Indonesian people have to admit that we have to study hard for English. This is one big homework for education world in our country. Syukurlah semakin kesini memang anak-anak kecil juga bahasa Inggrisnya udah berkembang (especially if they go to good school). Ditambah lagi, kalo semua orang Indonesia Bahasa Inggrisnya lancar, pariwisata negara kita bakal makin maju karena salah satu kunci kesuksesan daerah wisata adalah masyarakatnya harus siap sebagai masyarakat pariwisata, dalam artian masyarakatnya bisa ‘melayani’ turis asing. Yeah, that’s my point of view.

Okay, let’s continue my story. Selagi nunggu sesi berikutnya (sesi 6), aku keluar gedung PCEC buat motret-motret aja di sekitar situ.  Eh, ketemu sama Kataryzna (yang dari Polandia yang aku ceritain ketemu di welcoming party). Dan bodohnya, entah reflek atau gimana, aku minta dia pose dong. And I took her picture. Hahaha. Cantik sih. Pinter pula. Dia baru umur 26 tahun tapi sekarang udah jadi mahasiswa PhD. Damn. Setelah ngobrol-ngobrol ringan (damn, I can’t concentrate when I was staring her grey eyes. Screw me), aku masuk duluan ke gedung buat ngikutin paparannya Jenny (kenalan researcher dari Stuttgart, Jerman).

Jadi aku masuk ke sesi 6F: Problem-solving Research and Motivational Skills yang isinya tentang ilmu-ilmu sekolah perencanaan dan seisi ruangan itu kerjaannya tenaga pengajar. Aku kayak ‘krik-krik, what am I doing here’. But it’s okay, I came to listen to Jenny’s presentation and I got so many new informations about planning studies in this session. Ah, ada kejadian lucu, personally sebenernya. Ternyata ada lho orang yang nama belakangnya ‘Butt’. You know what I mean? Hahaha. Forgive me. Ah, iya. Cuma mau ngomong juga, bahwa bersyukurlah bagi yang kuliah di Planologi UNDIP (which is I only know how their curriculum is and I don’t know how the other planning schools in Indonesia are). Karena banyak dosen-dosen yang lulusan luar negeri, pernah ke luar negeri, atau apalah itu dan pendekatan-pendekatan pengajaran yang diterapkan di luar negeri itu sudah diadopsi dengan cukup baik di kampus Planologi UNDIP. I have reasons why I can say this. Jadi tinggal mahasiswanya aja yang mau maju atau ngga. Simple.

Next, I met Hyun Min dari Korea (yeah, you can scream ladies, for you who’s crazy about Korean stuff) waktu lagi tea break dan nunggu sesi 7. Lanjut aja, aku ambil sesi 7J: Healthy Cities and Planning. Banyak informasi lagi yang aku dapat dari sesi ini, of course. Aku jadi kepikiran buat nulis note tentang findings yang aku dapet dari WPSC 2011 ini. How about it? Selain itu, dengan sering-sering ikut seminar, mau nasional, mau internasional, itu bagus buat ngelatih teknik presentasi dan mentalnya. Oh ya, gara-gara mondar-mandir pindah ruang dari satu sesi ke sesi lainnya, rasanya pegel nenteng laptop gede. Jadi kepikiran nabung pengen beli notebook kecil. Buat traveling juga lebih cocok.

Selesai seminar hari itu, aku sama Mba Tiwi (masih inget?) jalan pulang bareng, tapi kami sepakat buat jalan lebih jauh demi ngeliat-liat jalanan Perth. Kami menyusuri jalan di pinggir danau di deket PCEC. Enak deh kalo di Perth ini kemana-mana jalan juga oke aja. Pedestrian safety nya bagus. Tapi ternyata orang sini juga agak bandel. Meski lampu buat pedestrian belum ijo, suka ada yang nekat nyebrang kalo pas ngga ada mobil. Kalo saya sih tetep patuh lampu lalu lintasnya karena takut. Kalo di Indonesia, semua-semua berasa ngga peduli kalo mau ngelanggar. Haha. Bad example. Jadi kami pulang sambil ngeliat skyline gedung-gedung tinggi nya Perth. Ngelewatin taman kota juga. Ya, balik lagi, orang jalan kaki di sini juga mau-mau aja akhirnya. Kalo siang pun, matahari bisa ditahan sama fasade atau atap bangunan di samping jalur pedestriannya. Jadi bahkan bangunan kantor atau komersial itu di desain untuk ‘meneduh’ kan pejalan kaki. Di Indonesia? Panas ya kepanasan, ujan ya keujanan. Hiks.

Kami mampir ke Hay street untuk ke Elizabeth Secondhand Bookstore. Tokonya unik, desainnya vintage gitu dan emang jual buku bekas tapi masih bagus. Mba Tiwi beli tiga buku, dan aku sendiri masih mikir-mikir, mungkin besok-besok aja belinya. Menarik-menarik lho bukunya. Aku pengen beli buku-buku tentang sejarah eropa sama australia gitu. You know? Kita bisa belajar banyak tentang perkotaan dari sejarah kotanya.

Habis dari situ, kami memutuskan untuk makan malem di tempat makan yang kira-kira lebih murah dari malam sebelumnya. Di Barrack street, ada tempat makan namanya Central Café. Dari bentuknya ya, itu kayak restoran junk food yang ngejual kebab sama pizza. Surprisingly, harganya ngga jauh beda sama restoran yang sebelum-sebelumnya. Speechless. Mau nangis. Ya sudahlah, aku pesen 1 nasi kambing dan 1 gelas black tea, dan untung porsinya besar. Ditambah lagi, Mba Tiwi lagi diet, jadi aku disuruh ngabisin makanannya. Mantap. Tapi habis $17 AUD. Grrr. Well, call me stupid or what but I’m not a backpacker here. My roommates told me that I’m better cook at the kitchen so I can save more money. Tapi setiap pulang dari conference, capeknya itu lo. Dan males juga hahaha. Sialnya, tanpa cerita begini pun, mama tiba-tiba sms isinya cuma ‘UANGNYA JANGAN DIHABISIN’. Yup, in capital word. Waktu aku jalan pulang ke hostel, aku ambil shortcut yang aku coba karena kayaknya bisa lebih deket. Dan aku ngelewatin restoran jepang yang mampang menu di jendelanya. Ternyata ada menu makan nasi teriyaki dengan harga hanya $5 AUD aja. Tuhan ku, kenapa ngga dari tadi. Hiks.

Nyampe hostel, ngetik ini itu, nyiapin buat presentasi besok. Terus sempet ngobrol sama Alex yang baru pulang dari latihan bola (he worked as football player for Perth football club here. Terus ngobrol sama John dari Kanada. Dia tertarik pengen tinggal di Bali gitu. Disini dia capek harus ambil tiga kerjaan sekaligus supaya dapet cukup uang sesuai keinginannya. Bisa gitu ya, punya kerjaan gitu, tinggal di hostel gini buat waktu lama, backpacker emang unik. Kalo aku mau kerja di sini ya harus punya visa kerja, sedangkan yang aku apply itu visa bisnis. And then kami ngobrol tentang traveling dan tips-tips jadi backpacker. Ah, I should go to sleep earlier today because I don’t want to come late to my own presentation. Goodbye everyone regards from Perth.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s