A Story about a Boy in Perth, 6 July 2011

Hello everyone. How are you doing? Now it’s like my fifth day in Perth and actually it’s getting colder now. This morning, the temperature was about 2oC. Pretty cool, huh? Definitely. I was like freezing after took a shower. Damn. Ah, by the way. Semalem aku mimpi sampai ngigau loh kata roommate ku. Katanya aku ketawa sambil tidur. What the hell. Well, actually, I dreamed something stupid by the way. Aku mimpi temenku, namanya Adhit (yeah, you may know him, Adhitya Eka Putranto). Ya, aku mimpi aku pulang dari Perth, ngeliat orang dari jauh, dari tampak belakang koq kayak kenal. Orangnya pake baju PNS, setelah kutepuk pundaknya, ternyata Adhit. Dan ngga tau kenapa koq dia pake baju PNS dan pake rok. Dan aku ketawa sampe guling-guling dan ternyata itulah yang buat aku sampe ngigau. Bad dream. Damn.

You know what? Di kamar hostel ku, Room 25, ada keturunan Afrika-Amerika (like I mentioned before), namanya Eddy kalo ngga salah. He is a nice guy, but the rest of us who’s staying in the room have one big problem with him. Eddy tidurnya ngorok. Screw him. Most of us go to bed at 10 or 11 pm, and Eddy biasanya udah tidur duluan dari jam itu, dan dia udah ngorok aja gitu loh. Arggggh. Dan kami akhirnya ngejadiin itu bahan bercandaan sebelum tidur, every single night. Zzzz

Okay, skip to today’s story. Today is my big day. Why? Yup, this morning, I presented my paper this morning as one of the speaker in first session in today’s congress. I was pretty nervous at first, but I made it well. So, I was presenting my final paper for my undergraduate degree in this congress. Aku masuk di sesi 8A: Gentrification and Downtown Development. In that session, there were two speakers, including me, talking about the topic as I mentioned before. I was presenting my paper exactly in 20 minutes, and the co-chair, Miss Carly from Griffith University said that was a perfect timing. Fiuh. There were about 10 to 15 people in the room, and I was really afraid at first for questions that likely to be asked to me. Well, I did many presentations back in Indonesia, tapi atmosfir di sini tentu saja jauh berbeda. I don’t even know who they are, where they are from, and things like that. Dalam hati bahkan sempet berpikir, “Duh, kayaknya sidang akhir ngga sampe setegang ini” hahaha. But I could control myself and chill down my nervous and the presentation went pretty well, I guess. What I’m trying to say in this story is, well, first experience always very exciting, definitely. Sesuatu yang baru akan selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Ada satu pertanyaan dari researcher dari Sydney tentang rekomendasiku dan dua pertanyaan dari professor dari Brisbane tentang theoretical framework dan kemungkinan studi lanjutan dari penelitianku. Jadi, personally, aku dapet komentar menarik seperti kenapa aku pakai banyak literatur non Indonesia, dan tentu saja aku jawab karena literatur gentrifikasi yang lokal Indonesia tidak banyak dan tidak ada yang fokus membahas itu. Bahkan istilah gentrifikasi saja tidak familiar di masyarakat Indonesia, even yang bergerak di bidang planning. Terus aku juga dapat maskukan untuk melanjutkan penelitian tentang lokasi yang dituju masyarakat yang tergentrifikasi atau harus pindah dari lokasi studi ku tersebut. Ah, lega banget rasanya kami nyambung. Haha. Well, aku jelas takut kalau aku ngga ngerti apa pertanyaan mereka. Puji Tuhan budek ku ngga kumat waktu itu. Haha. Lega rasanya dapet applause dan sambutan positif. Nice work! By the way, setelah sesi itu selesai, professor yang dari University of Queensland, Brisbane, his name is John Minnery, ngajak ngobrol dan kemungkinan kerja sama suatu saat nanti kalo memungkinkan. Another bless. Jadi Prof John ini temennya Prof David Wadley yang dulu pernah ke Indonesia untuk ICRD 2011 di UNDIP, dan kebetulan dulu aku sempet nemenin Prof Wadley jadi aku sama Prof John sempet ngobrol-ngobrol lebih jauh.

After morning break, I took session 9A: Occupation, Employment, Education, and Housing. Aku nanya ke presenter pertama, namanya Mr. Campbell, tentang subsidized housing in South Africa tentang keberlanjutan penduduk setempat terkait perekonomian dan pendidikannya agar mereka tidak kembali ke kebiasaan mereka sebelumnya di slum area. Standard question actually, but I want to know how foreign country approach for this case. We had a nice discussion, by the way. Dan selesailah sesi itu.

It’s time to lunch. Lunch nya enak. Jadi kepikiran dibungkus buat dinner. Haha. I’m kidding. Aku lunch bareng Kim Jun-Hyung, professor dari Daegu University, Korea dan kami ngobrolin tentang real estate dan keterkaitan antara pekerjaan dan kepemilikan rumah. Ah, what a topic. Ngerasa bego banget lah ngobrol sama orang-orang pinter di sini. Cuma bisa ngangguk-ngangguk, iya iya doang, dan comment dengan keterbatasan pengetahuan. Sial. Aku juga ngobrol sama Jenny, researcher dari Stuttgart, Jerman (I already mentioned her before, by the way). Dia dateng ke presentasiku tadi pagi juga. What a compliment.

Today, it was tiring actually. Mulai kerasa capeknya konferensi ini karena jadwal yang padat dan banyak topik yang diikutin. Well, after lunch, I entered session 10C: Institutions and Systems for Planning karena pengen ngeliat presentasinya Peter Van den Broeck, kenalan dari Belgia yang cukup akrab selama di Perth ini. Ah, ilmu tingkat tinggi. Dan saya bengong aja merhatiin sesi ini. Udah mau meledak kayaknya ini otak overload sama berbagai topik hari ini. Arrgh. I wished today’s conference to end sooner actually. I’m sorry.

Well, masuk coffee break, aku memutuskan untuk ‘mengasingkan’ diri dengan ngopi sendiri sambil ngeliat view danau dari gedung PCEC. Tapi tiba-tiba disamperin sama orang US, lupa namanya, yang tiba-tiba nyamber “what a beautiful view, don’t you think?”. Dan berlanjutlah obrolan klise kenalan basa-basi. Actually, I’m sorry, aku lagi ngga begitu bersemangat ngobrol sama orang waktu itu. Jadi aku juga ngga sampe minta alamat email atau kartu nama seperti yang biasa aku lakukan kalo kenalan sama orang baru selama di kongres.

And then I came to the last session today, Thank God. Aku masuk ke sesi 11A: Water, Flood, and Coastal Management. Sekalian di sini juga Mba Tiwi (temen yang ketemu di bandara, sekolah PhD di Belgia, remember?), dia presentasi juga. Glad, the topic of this session was interesting and I received good and new knowledge from it. Oh ya, banyak topik yang berkembang di duina perencanaan di Indonesia sebenarnya juga topik yang seru dan hangat di dunia perencanaan internasional. Misalnya topik tentang water resource, transportation, housing, dan community development. Tips juga, sebagai perencana nantinya, harus punya spesialisasi bidang atau topik apa yang diseriusin. Biasanya ini udah kebayang dari master degree dan bakal bener-bener ditotalin waktu ngambil PhD atau doctoral program.

Here comes the best part. Sore ini ada drink party dari Routledge Publisher (yang biasa nge-publish jurnal penelitian, if you notice). Yey. So, I had nice standing party, some sparkling wine and also some light snacks. I joined a conversation with Giancarlo and Antonio from Italy and also Kataryzna from Polland (I think I already mentioned her a lot. Haha). Wine nya enak, snack nya juga enak. Jadi Routledge publisher mau ulang tahun yang ke-20 dan mereka mengundang peserta WPSC 2011 buat drink party ini.

Wait, another best part is coming. Setelah drink party dari Routledge, ada invitation dari AESOP (Association European Schools of Planning), yang mengundang semua peserta WPSC 2011 yang statusnya student ke another drink party (even kamu umur 50 juga kalo sedang studi buat PhD misalnya, boleh dateng). So, we had the party at George Terrace di George St. Tempatnya asik banget dengan desain ruangan yang vintage, dan konon ini bar dan restoran mahal. Of course, keliatan banget dari bentuknya. Untungnya, semua undangan dikasih minum gratis dan ada waitress yang keliling nawarin makanan ringan. Pretty nice, huh? I took only one beer because I had already too much wine at Routledge party before. I don’t want to get drunk, of course.

Di AESOP party ini, aku sempet kenalan sama researcher dari NUS (lupa namanya), Nicolas dari Prancis, Mohsen dari New Zealand, Wendy dari Belanda, dan satu lagi orang Belanda aku lupa namanya. Kalo aku ngomong kayak gini jangan dibayangin kenalannya sama orang seumuran aku, karena mereka sekitar umur 30-an. Ada sih yang umur 25 ke atas juga. But, so far I met people here, I’m the youngest one, being 21 years old. Great. Hiks. Untungnya mereka semua asik-asik koq. Bahkan kami ngobrol seru hanya dengan ngebandingin kehidupan dan perkotaan di masing-masing negara asal atau negara dimana mereka pernah lama tinggal. Seru. Dan kami semua komplain hal yang sama tentang Perth, yaitu, semuanya mahal. Ya, balik ke topik itu lagi. Dan ternyata, aku ngga tau ini bener atau ngga, tapi katanya, Perth adalah kota besar di Australia yang living cost nya jauh lebih murah dibanding Sydney, Brisbane, dan kota besar lain. What the hell?? Really? I also surprised when Mohsen told me about this. Tapi sekali lagi, income kerja disini memang sangat tinggi. Setelah diklarifikasi, Perth memang ‘used to be’ kota dengan living cost yang lebih murah dibanding kota besar lainnya di Australia, namun setelah adanya penemuan pertambangan di sekitar tahun 2000-an (sepertinya tahun 2005), membuat nilai berbagai komoditi di Perth meningkat dan berimbas pada living cost setempat. Kompleks ya.

Kami juga sempet ngebandingin tentang karakteristik kota kami masing-masing. Pedestrian way nya lah, transportasinya lah, living cost, dan macem-macem. Ah, ngomongin tentang pedestrian way lagi, ternyata pedestrian way di Perth yang aku bilang udah oke banget, masih kalah sama kota-kota besar Eropa kayak London, Paris, Amsterdam, dan lain-lain. I should definitely come there someday, I wish. Oh ya, for your information, kalo nyetir di Australia, so far, di Perth sendiri, kayaknya bakal gampang banget kalo memang mau nyetir mobil di sini karena petunjuk jalannya itu jelas banget. Banget. Detail gitu rambu lalu lintasnya. Lagi pula, di sini mobilnya juga tipe setir kanan, jadi masih sama kayak di Indonesia. Informasi lain nih kalo tentang pedestrian way nya, di Perth, kalian bakal sering ngeliat anak-anak muda dengan gaya emo (yeah, the punk and gothic mix culture, I think) itu berkeliaran di jalan. Bule-bule ababil kayaknya haha. Terus juga suka ada orang mabok, atau orang yang ngemis minta dollar . Pernah suatu malam aku jalan pulang ke hostel, terus ada pasangan anak muda minta duit gitu ke aku pas aku lewat dan aku pura-pura ngga denger. And one of them seems like yelling “Fuck you”, and I was like “Fuck yourself or with your girlfriend if you want” (Dalam hati sih. Takut ntar tiba-tiba dilempar papan skateboard sama anak itu. Hahaha) Damn. Well, everything has two sides, termasuk kehidupan perkotaan.

Aku pulang duluan, sekitar jam 8 malem karena beberapa juga udah ada yang pulang duluan. Sebenarnya aku diajak makan malem bareng-bareng temen-temen WPSC, tapi aku udah kebayang ini nanti bakal ngabisin duit banyak lagi, alhasil, aku memutuskan untuk absen. Aku berencana makan di restoran jepang yang murah deket hostel yang aku liat kemarin. Sampe di sana, ternyata udah tutup. Tuhan ku, apa pula ini saya laper banget padahal. Meski udah diganjel makanan ringan selama party, tetep aja ngga nampol kalo belum makan besar. Hah, ya sudahlah. Akhirnya aku memutuskan untuk masak mie aja di hostel. Well, jangan dibayangkan saya masak indomie kayak di iklan-iklan yang lagi happening sekarang ya. Aku masak noodle cup merek Nissin di dapur. Enak koq. Lumayan lah buat makan malem. Cuma keluar $2 AUD buat beli mi instan nya dan masak sendiri di dapur. Tetep mahal sih sebenernya ya. Haha. Seperti yang aku bilang. Kalo terus-terusan ngonversiin harga makanan tiap makan di sini, sakit hatinya jleb jleb jleb jleb. Oh ya, yang nginep di hostel gini ini biasanya dikasih keranjang (crat) sama coolbag masing-masing di dapur, di kasih nama, terus isinya bahan makanan masing-masing. Punya ku sendiri isinya cuma cup noodle, bread, and peanut butter. Hehe.

Sambil mindahin foto dan ngetik note, aku ngobrol dengan Gium (a French roommate which I told you, and actually his name should be written like this ‘Guillaume’, dan dibaca Gium). Aku nanya-nanya tentang gimana Prancis, susah ngga belajar bahasa Prancis, terus nanya-nanya juga tentang kebiasaan anak muda di Eropa yang udah terbiasa sama traveling kayak gini. Ah, pokoknya banyak pengetahuan yang aku dapat cuma dari ngobrol ringan kayak gini. Well, in this small world, actually it’s a lot bigger than I thought.

Oh ya, sempet kaget lo. Jadi beberapa roommate memang udah ninggalin Room 25, kamarku. Ternyata ada roommate baru masuk, pasangan cowok cewek. Dan aku ngga tau apa ini normal atau ngga, jadi aku tanya ke Gium. Memang wajar dan banyak kayak gini, hostel-hostel backpacker yang akhirnya harus share kamar campur cowok cewek. Tapi sebenarnya harusnya kamar cowok sendiri, cewek sendiri. Well, but you know.Western culture. They don’t even mind.

Well, I think it’s sort of the end for today’s story. I’m so tired and I want to go to bed now. So, see you tomorrow. Have a nice day guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s