A Story about a Boy in Perth, 7 July 2011

Hi everybody. I hope you don’t find this boring because this will be the last two days of me in Perth. Hiks. Hari ini aku bangun agak santai, 7.45 am, it’s 5oC this morning. This Thursday was the last day of the third World Planning School Congress 2011 in Perth, Western Australia. A little bit sad to know this fact actually because I love the atmosphere of those knowledgeable persons in congress. The time has flewn seems unnoticed.

Hari ini aku jalan ke Perth Convetion Exhibition Centre (PCEC) lebih santai dari biasanya. Bahkan aku sempet motret-motret juga sepanjang perjalanan. Aku ambil rute lebih jauh hari ini, agak muter-muter supaya bisa liat-liat sudut City of Perth yang belum aku lihat sebelumnya. Sebenarnya ya sama-sama aja sih, campuran gedung tinggi, modern, sesekali konvensional, dan juga ada gedung-gedung dengan desain kolonial eropa yang artistik. Oh ya, sempet lewat salah satu convenience store namanya Kings Park dan ngeliat ada Indomie loh. Hahaha. Jadi inget iklan yang lagi happening itu. Sigh.Saking santainya, aku telat 10 menit nyampe ke kongres. Padahal aku disuruh dateng sama Bertrand yang dari Sorbonne University itu untuk ngeliat presentasinya. Jadi begitu nyampe PCEC, aku langsung masuk sisi 12A: Housing and Inequality and Urban Spatial Relationship and Community Development. Di sesi itu aku juga sempet nanya ke Yoon Zoosun, orang Korea yang lagi kuliah PhD di University of Tokyo tentang studinya mengenai online community participation in apartment neighbourhood design. Cukup menarik karena sibuknya masyarakat perkotaan, mereka tidak bisa semuanya mengikuti pertemuan-pertemuan antar masyarakat seperti tipikal community planning dilakukan. Tapi dengan potensi internet yang sudah dapat diakses oleh semua masyarakatnya, maka studi di Korea ini memanfaatkan online participation masyarakat di apartemen yang kawasannya akan di re-design dalam pendekatan planningnya. Hal menarik lainnya adalah bahwa kota-kota maju di negara besar jangan dianggap selalu memiliki fondasi akses internet yang bagus lo. Tergantung negaranya masing-masing. Kebanyakan, akses internet yang bagus di suatu negara itu kalo negaranya memang berorientasi pada teknologi seperti Jepang, Singapura, Taiwan, dan Korea misalnya. Bahkan seperti di Perth, lalu Brisbane juga, ada area-area yang tidak mudah untuk mengakses internet karena tergantung ketersediaan atau jangkauan jaringan broadbandnya.

Setelah sesi 12 selesai, saatnya coffee break. Ngga banyak cerita, aku cuma ngopi bentar sambil makan cookies, terus ngobrol sama Jenny dari Stuttgart dan Yoon yang aku certain barusan. Habis itu atas saran dari seorang teman di Indonesia yang nanyain tentang topik transport (namanya Tia Dianing Insani kalo kenal), aku memilih untuk masuk sesi 13E: Transport, TOD, and Travel Mobility. Bahasannya cukup menarik. Tapi memang beberapa kota maju yang transportasinya sudah bagus itu juga didukung sejarah kemantapan infrastruktur transportasinya dari dulu. Perth misalnya, sudah dikenalkan konsep TOD (Transit Oriented Development) di tahun 1988 dan sudah punya investasi infrastruktur transportasi publik dari jaringan jalan kereta api dalam kotanya.

Lanjut, keluar ruangan, aku ngenet, buka email, ngupdate note, ngupload foto, twitteran sebentar. Manfaatin waktu break lunch lah pokoknya. Oh ya, lunch hari ini enak lo. Ngga tau sih namanya apa. Seperti biasa, makanan barat gitu lah. Aku makan siang di meja bareng-bareng ‘kontingen’ Indonesia. Hehe. Ada yang lagi kuliah PhD di Australia, Mba Irina sama Mba Siti, ada dosen muda dari ITB, namanya Mas Delik. Dan saya ditanya dong, “Di UNDIP ngajar?” , saya jawab “Iya. Ngajar mahasiswa baru. Hehe.” ,terus ditanya lagi “Ngajar apa?”, dan saya jawab asal, “Iya. Ngajar mental. Ngospek maksudnya.” Hahaha. Dan saya meluruskan kebohongan saya bahwa saya baru lulus S1, bahkan belum diwisuda, dan saya sendiri bingung koq bisa sampe kongres ini yang isinya udah orang-orang ilmu tingkat tinggi semua. Hahaha.

Okay. Siang itu saya bulatkan tekad untuk bolos sesi berikutnya. Ampuni aku, tapi aku pengen jalan-jalan bentar aja. Jadi sesi 14 dimulai jam 2 pm, dan sebenarnya aku masih punya waktu setengah jam free sebelum sesi dimulai. Jadi, aku putuskan untuk jalan-jalan aja mulai dari George street, King street, terus ke Hay street. Di Hay street, aku ke toko buku karena pengen beliin buku bagus buat keponakan. Setelah beli buku, aku jalan balik ke PCEC sambil potret sana, potret sini. Aku pengen menangkap suasana kotanya, atmosfir masyarakat Perth yang beraktivitas di musim dingin kayak gini. Ngelewatin taman-taman kota yang banyak di sini. Ada burung-burung merpati juga terbang bebas dan orang bisa kasih makan roti di taman atau bahkan di pedestrian mall seperti di Hay street mall dan Murray street mall. Oh ya, mall disini jangan diartikan mall kayak shopping centre dengan gedung besar khas metropolitan di Indonesia ya. Memang mall itu shopping centre, tapi sebenarnya konsep mall itu adalah suatu ruas yang di kanan dan kirinya berjejer pertokoan dan di luar negeri seperti Perth, mall itu ya yang kayak tempat pejalan kaki bisa bebas berjalan sambil sightseeing atau belanja di sana.

Ngga kerasa ternyata waktu udah menunjukkan 2.30 pm waktu aku balik ke PCEC. Aku sebenarnya mau masuk ke ruang dimana Mas Delik presentasi, tapi aku lupa di ruang berapa dan di Program Handbook itu ngga ada nama Mas Delik di hari itu. Dan akhirnya aku masuk ke sesi 14C: Environmental Design and Education karena co-chair di sesi itu Cole Hendrigan, orang Kanada yang sekarang ngajar di Australia, yang tempo hari sempet ngobrol bareng waktu lunch. Begitu kelar sesi itu, aku ketemu Mas Delik waktu afternoon tea. Ternyata dia tadi di sesi 14B dan memang ada perubahan yang seharusnya dia present hari Selasa, ternyata hari Kamis ini dipindah, maka dari itu aku ngga nemu namanya di program handbook yang sesi hari Kamis ini. Tapi sebenarnya perubahan-perubahan gitu udah diumumin di papan pengunguman (notice board) yang disediain panitia sih. I didn’t pay attention. Oh, ngomongin tentang panitia kongres, kerjanya bagus lo. Aku sempet kehilangan buku catetanku yang aku lupa taro dimana dan waktu aku nanya ke meja registrasi, buku ku udah ditemuin sama panitia dan dikasih catetan hilangnya di ruangan mana. Selain itu ada cara lucu dari panitia untuk mengingatkan peserta kongres saat session break sudah selesai dan memberitahu bahwa sesi berikutnya sudah dimulai. Caranya yaitu, ada seorang dari panitia yang bertugas berkeliling sambil membunyikan lonceng kecil. Lucu, kayak bel masuk sekolah. Hehe.

Saatnya sesi terakhir di kongres, aku ambil sesi 15H: Community Organizing, Participation, and Empowerement. Aku belajar best practice dari beberapa presentasi di sesi ini, seperti di India dan Afrika Selatan. Serunya seminar kayak gini memang bagaimana kita bisa menyerap ilmu dari studi yang telah dilakukan peneliti-peneliti lain untuk bisa kita adopsi di penelitian atau bahkan hometown kita. Memang pastinya harus ada penyesuaian lagi karena kembali lagi, bahwa setiap lokasi memiliki karakteristiknya masing-masing. Locus Solus.

Seminar Internasional WPSC 2011 pun selesai. Secara personal, saya cukup bangga bisa masuk ke jajaran delegate and speaker, dari saringan 953 abstrak yang masuk dan dipilih 400 an, saya kurang tau jumlah pastinya karena ada beberapa perubahan saat hari H. Katanya sih untuk kongres level dunia, ini hitungannya tidak banyak yang diambil. Bless me. Sebenarnya ada dinner party sebagai penutup dari kongres ini, tapi harus bayar buat dapet invitationnya, jadi aku sendiri memilih tidak mengikuti dinner partinya. Well, see you in the next five years everyone from WPSC, maybe I can come to the forth WPSC? Hehe.

Selesai kongres itu, saya sempet foto-foto dulu sama peserta WPSC yang dari Indonesia. Saya satu-satunya yang membawa nama Diponegoro University, dan saya sendiri ngga tau apakah UNDIP atau bahkan jurusan saya tau kalau saya berangkat ke kongres ini. Saya sampai ke kongres ini juga berkat inisiatif Bu Landung, dosen pembimbing tugas akhir saya waktu S1. Hmmm. Well, talking about the institution, saya sempet ngobrol-ngobrol sama Mas Delik, dosen dari ITB, tentang arah pengembangan sekolah perencanaan di Indonesia. Sebenarnya topiknya agak berat dan aku diminta untuk serius tentang ini. Padahal aku sendiri ngga tau kapasitasku disini terkait UNDIP sebenarnya bagaimana. Sore itu aku, Mas Delik, dan Mba Siti memutuskan untuk makan malem bareng sekalian jalan-jalan naik TransPerth. Kami muter-muter di rute Blue CAT aja, yang deket-deket sini. Jadi kami di dalam bus ngeliat-liat kota dari dalem bus. Hehe. Oh ya, di City of Perth, ada tiga rute gratis yang ngga perlu bayar kalau mau pakai TransPerth, yaitu ada rute di Blue CAT, Red CAT, dan Yellow CAT. Masing-masing rute itu mewakili kawasan-kawasan yang terdiri dari beberapa ruas jalan tertentu. Di luar rute rute yang dibahasakan pakai warna itu, kalau rute perjalanan yang lebih jauh, misal ke suburban area, itu ada chargenya. Tapi sebagai peserta WPSC 2011, aku dikasih kartu gratis buat pakai TransPerth kemana saja aku mau sampai tanggal 10 Juli 2011.

Setelah muter-muter rute Blue CAT dan kebablasan beberapa halte (yeah, Mba Siti ternyata salah baca arah di peta), kami turun di sekitar William street dan makan di restoran timur tengah. Aku lupa nama restorannya, tapi aku makan menu namanya mediterannian platter. Porsinya besar banget. Dibeliin chips and fries juga pula sama Mas Delik. Kenyang to the max deh. Setelah aku tanya ke Mas Delik yang pernah kuliah di Belanda dan Mba Siti yang lagi kuliah di Australi ini, ternyata memang porsi makan di luar negeri emang besar-besar. Bahkan di Eropa malah lebih banyak lagi porsinya. Dalam hatiku, di Indonesia juga kalo ke warteg atau warung makan padang porsinya juga besar, tapi harganya ngga segini-segini amat. Huaaa. Ngebahas duit lagi. Ngga selesai selesai sakit hatinya. Hahaha.

Setelah makan malem, Mas Delik sama Mba Siti minta dianterin ke toko buku tempat aku beli buku tadi siang. Jadi aku anter mereka ke Hay Street, ke Elizabeth Secondhand Bookstore. Sepanjang perjalanan, Mas Delik masih ngajak omong aku tentang arah sekolah perencanaan di Indonesia. Aku salut sama jalan pikirnya Mas Delik. Kenapa sekolah-sekolah perencanaan di Indonesia sifatnya lebih seperti berkompetisi dibanding bekerja sama? Ada yang pernah kepikiran? Misalnya saja masalah jurnal penelitian. Kenapa setiap sekolah perencanaan di tiap universitas selalu ‘memaksakan’ untuk mengeluarkan jurnal ‘lokal’ nya? Dalam artian, kenapa tidak ada jurnal penelitian tentang perencanaan yang merangkum berbagai penelitian dari berbagai sekolah perencanaan? Padahal dengan kerjasama seperti itu akan meningkatkan standard mahasiswa perencana dengan lebih baik dan merata di Indonesia, memberi pengetahuan yang lebih luas, serta ngga menciptakan mental ‘jago kandang’ di civitas sekolah perencanaannya. Contoh lainnya saja kerjasama di koleksi buku perpustakaannya. Dengan memberi akses yang mudah, maka mahasiswa antar sekolah perencanaan bisa bertukar referensi dan mencari buku tidak terbatas hanya di perpustakaan jurusannya masing-masing. Ah, masih banyak hal lain yang menjadi PR bagi sekolah perencanaan di Indonesia. Padahal, sekolah perencanaan di Indonesia sudah jauh lebih dulu ada dibanding kota-kota lain di Asia. Tapi tidak begitu banyak perkembangan secara nyata yang terlihat secara praktis dalam penerapannya di kota-kota di Indonesia sendiri. Contoh-contoh yang aku sebutkan tadi, sudah diterapkan di berbagai sekolah perencanaan di Australia yang jumlahnya ngga sedikit.

For your information, secara overall, kontribusi Indonesia di bidang pendidikan internasional itu tidak lebih dari 3%. Padahal negara yang lebih kecil seperti Singapura saja bisa mencapai sekitar 10%. Maka dari itu bidang pendidikan Indonesia harus lebih maju lagi dan berkontribusi di dunia Internasional sehingga nama Indonesia sendiri juga lebih terpandang secara positif. Melalui seminar-seminar internasional di luar negeri seperti ini juga menjadi salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi Indonesia lo. Saya sih berharapnya makin banyak dana bantuan dari pemerintah untuk men-support orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan. Jadi kalo ada seminar internasional di luar negeri lagi, bisa membantu penghematan pengeluaran. Tapi tentu saja harapannya, harus ada hasil dari seminar itu yang dapat dijadikan kontribusi bagi Indonesia sendiri, paling tidak untuk institusi yang namanya dia bawa ke dunia internasional.

Okay, cukup ya pemikiran saya. Lanjut lagi, di toko buku, Mas Delik sama Mba Siti beli buku buat anak mereka masing-masing. Saya sendiri beli buku lagi yang karena lagi sale, harga satunya cuma $2 AUD. Murah banget ya? Hehe. Padahal buku cerita tebel. Judulnya Departures and Arrivals dan Three Weeks With My Brother. Ya cuma buat baca-baca aja sih. Sekalian ngelatih Bahasa Inggris saya yang masih kacau. Hiks. Sehabis dari toko buku, kami pisah. Aku jalan pulang ke hostel sendiri. Oh ya, lucunya, Mba Siti yang udah lama tinggal buat kuliah di Perth sini malah tanya jalan ke aku. Dan aku bisa lo nunjukin arah jalannya karena udah 6 hari ini aku jalan kaki terus di sekitar kawasan deket hostel sampai sekitaran PCEC, jadi cukup taulah arah-arah jalannya. Ada joke, bahwa sebagai orang planning harusnya ngerti peta, tapi kalo udah kuliah di planning tetep ngga ngerti gimana baca peta dan masih nyasar meskipun udah baca peta, maka jawab aja, “Saya kuliah di planning bukan untuk jadi supir taksi koq.” Saya kutip dari Mba Siti yang sudah buat saya dan Mas Delik nyasar dua kali sore itu. Hehe.

Sampainya di hostel, saya packing. Sedih deh. Saya packing sambil ngobrol sama roommates kayak Gium, Luwik, Josh, dan Carl yang lagi ada di kamar waktu itu. Oh ya, meskipun ini kamar buat 16 orang, ngga setiap dari kami saling kenal lo. Soalnya sempet ada orang Chinese gitu di Room 25 untuk tiga hari nginep di hostel Globe Backpacker dan di satu kamar yang sama dengan kami, tapi dia sama sekali ngga pernah ngomong. Beberapa juga ada yang kalo masuk kamar cuma buat tidur dan ngga komunikatif sama roommates lainnya. Jadi selama 6 hari ini kenalan roommates di kamar ya Egor, Alex, Eddy, Gium, Josh, Luwik, Carl, Evans, Travis, Nicholas. Lumayan banyak lah. Sedangkan waktu saya nulis ini, ada dua ranjang sudah kosong, dua orang saya ngga kenal, dan dua orang lagi pasangan baru penghuni kamar ini yang belum sempat kenalan.

   

Jadi saya intinya seneng aja bisa beradaptasi sama temen-temen sekamar yang asik-asik. Oh ya, kami juga tukeran alamat facebook. Ya, facebook tetep jadi situs jejaring sosial paling populer worldwide.

Well, I think that’s all that I can tell you for today’s story. Besok pagi saya mau bangun pagi-pagi, mau jalan-jalan dulu ke kawasan Fremantle sebelum balik lagi ke hostel dan pergi ke airport buat penerbangan sore. See you guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s