A Story about a Boy in Perth, 8 July 2011

Hi everyone, regards from Perth. This is my last day in Perth. Kinda sad actually knowing this truth. But every begining has its ending, right? And may other stories have been waiting for me. Banyak yang bilang emang enak jadi orang yang beruntung, tapi bagi saya, beruntung itu adalah saat kesempatan bertemu dengan kesiapan. Kalimat itu juga saya kutip dari Chris John, petinju kelas dunia asal Indonesia. Nice quote and I think it’s true.

Anyway, jadi hari ini saya sengaja bangun siang. Saya bangun jam 8.45 am, dan saya dengan tekad bulat tidak mandi. Haha. Cukup dengan sikat gigi dan cuci muka sudah membuat saya merasa segar pagi ini. Lagi pula teman-teman sekamar lain juga selalu kayak gini (mostly) tiap pagi. Lebih banyak yang milih mandi sebelum tidur karena air hangat akan membuat tidur lebih rileks.

Dari kemarin saya memang sudah berencana untuk pergi ke Fremantle pagi ini. Jadi, for your information, Perth ini Perth adalah ibu kota Negara Bagian Western Australia, negara bagian terbesar di Australia. Pada Juni 2006, Daerah metropolitan Perth memiliki populasi sekitar 1.507.900, membuatnya kota terbesar keempat di Australia. Perth Metropolitan Area ini terdiri dari City of Perthyang menjadi pusat komersial atau CBD nya, lalu di luar dari pusat kota, ada Fremantle yang terkenal dengan sejarah, makanan, dan hiburan, lalu ada Northbridge yang terkenal dengan varian restoran, bar, dan club malam, lalu ada The Coast yang menjadi tempat favorit untuk berenang dan melihat sunset, kemudian ada Northern Suburbs dan Southern Suburbs yang menjadi daerah permukiman, serta The Hills yang banyak ditemukan tempat membuat wine. Di luar metropolitan areanya, ada Outer Perth dan Rottnest Island. Nah, jadi karakteristik Perth itu sendiri, penduduknya tidak banyak tinggal di pusat kota, melainkan di suburban areanya karena mereka mencari rumah yang punya halaman luas agar bisa pesta barbeque biasanya. Di CBD sendiri, perumahannya pasti berupa apartemen dan lebih didominasi oleh penduduk yang bukan asli Perth.

Untuk ke Fremantle sangat mudah. Kebetulan stasiun kereta dalam kota ada persis di depan hostel saya menginap. Jadi, saya tinggal menyebrang, ambil jalur 8, kartu travel TransPerth juga sudah ada, cukup saya tag on saat masuk ke stasiun dan nanti di tag off saat turun di stasiun tujuan. Oh ya, saya janjian dengan Mba Tiwi (teman baru yang bertemu di WPSC 2011 yang sedang kuliah PhD di Belgia). Suasana stasiun cukup nyaman, dilengkapi fasilitas yang mendukung juga. Jadi di tiap jalurnya selalu ada papan informasi digital yang memberi tahu waktu kedatangan kereta tinggal beberapa menit lagi. Kereta datang tepat waktu sesuai papan informasi. Saya pun menaiki kereta TransPerth rute City – Fremantle. Sepanjang perjalanan, banyak sekali stasiun-stasiun kecil untuk tempat pemberhentian yang kebanyakan merupakan tempat-tempat yang menjadi pusat permukiman. Maka saya paham kenapa masyarakat Perth tidak bermasalah meskipun harus tinggal jauh dari pusat kota. Fasilitas transportasi publik yang mumpuni membuat mereka tak khawatir akan aksesibiilitas dimanapun mereka tinggal.

Perjalanan ke Fremantle hanya memakan waktu 20 menit dengan naik kereta. Maka sampailah saya di Fremantle bersama Mba Tiwi. Kami langsung jalan-jalan saja mengitari pusat kawasan Fremantle-nya. Suasana di sini lebih tenang dan lebih rileks dibanding City of Perth. Tentu saja, karena City of Perth merupakan pusat bisnis, sedangkan Fremantle bukan. Arsitektur bangunan-bangunannya juga lebih historik karena konon katanya Fremantle ini sebenarnya merupakan awal mula perkembangan Perth secara keseluruhan.

Kami akhirnya memutuskan untuk masuk ke Fremantle Market, semacam pasar tradisionalnya orang sini. Kebetulan kami datang di hari Jumat dan pasar ini memang buka hanya di akhir minggu mulai dari Jumat. Pasarnya sangat menarik. Beda dengan pasar tradisional yang terstigma di Indonesia yang selama ini saya temui. Jadi pasarnya indoor, sangat nyaman, bersih tentu saja, dan dibedakan kios-kios yang menjual bahan makanan, dan kios yang menjual barang-barang seperti kerajinan, souvenir, baju, perhiasan, dan lain-lain. Saya dan Mba Tiwi mencicipi kacang macademia khas setempat yang rasanya manis banget. Saya juga sempat ditraktir bakwan India sama Mba Tiwi. Haha, lumayan.

Selesai dari market, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan-jalan di sekitar sana hanya untuk melihat-lihat saja. Sederhana, tapi banyak hal baru yang saya lihat tentunya. Jam sudah menunjukkan pukul 11.15 am dan saya teringat bahwa kami sudah janjian untuk bertemu dengan Mba Irina di halte depan stasiun (Mba Irina itu kenalan yang ketemu di WPSC 2011 juga yang sedang studi PhD di University of Western Australia). Mba Irina berjanji mau menunjukkan tempat beli oleh-oleh yang murah di sini.

Yup. It’s time to buy some souvenirs. Saya memang masih tipikal traveler yang harus beli barang khas setempat supaya ada bukti saya pernah ke sana selain foto saya sendiri. Hehe. Dan saya juga bertanggung jawab untuk memberi oleh-oleh kepada beberapa orang tentunya. Maka Mba Irina membawa saya dan Mba Tiwi ke E-Shed Market. Mirip dengan market sebelumnya sebenarnya, tapi yang ini lebih modern industrial. Maka saya pun membeli souvenir di kios Aussin. Harganya memang lebih murah dibandingkan dengan jualan yang sama yang saya pernah lihat di City. Meski begitu, tetap saja terhitung mahal kalau dilihat dari kurs rupiah, sehingga saya tidak bisa membeli banyak barang untuk oleh-oleh. Hiks.

 

Setelah itu kami bertiga memutuskan untuk makan siang di foodcourt di market tersebut. Saya memilih tempat makan yang dengan $9 AUD bisa dapet all you can eat, masakan chinesse food. Selesai makan, kami pun pulang, naik kereta TransPerth lagi tentunya. Di tengah perjalanan Fremantle – City, saya harus berpisah dengan Mba Irina dan Mba Tiwi karena mereka memang berencana untuk mampir ke Subiaco, salah satu titik settlement di rute perjalanan kami waktu itu. Mba Irina memang berencana mau membeli bahan makanan di sana yang harganya katanya lebih murah dan Mba Tiwi pengen ikut lihat-lihat, sedangkan saya sudah diburu waktu untuk packing di hostel karena sudah jam 1 siang.

Sesampainya di hostel, saya packing dengan kilat. Di kamar cuma ada Alex dan yang lain memang sedang pergi. Seperti biasa, koper saya beranak pinak dari kedatangan saya ke Perth yang tadinya hanya bawa satu tas koper ukuran sedang dan satu tas ransel yang sekarang ditambah oleh satu tas jinjing dan tas dari WPSC 2011. Setelah mengurus urusan check out di hostel (dimana saya juga harus membawa sprei kasur, cover selimut dan bantal ke resepsionis sebagai prosedur check out di hostel tersebut). Saya seperti orang pindahan jalan keluar hostel menuju William Street yang terletak dua blok di belakang hostel saya dimana ada pangkalan taxi di depan salah satu taman kota di sana.

Saya naik Swan Taxi, ngobrol selama separuh perjalanan dengan sopirnya yang berasal dari Somalia, dan separuh perjalanannya lagi saya tidur. Haha. Habis $40 AUD dan saya sampai di Perth International Airport dengan selamat dengan 35 menit waktu tempuh. Saya memang tidak memutuskan untuk naik shuttle bus dari hostel ke airport meskipun saya bisa menghemat biaya, tapi saya tipikal safe player kalau judulnya sudah berurusan dengan deadline check in penerbangan, apalagi penerbangan internasional. Kalau saya naik shuttle bus untuk mengejar penerbangan, saya pasti dihantui perasaan ketakutan telat karena shuttle bus harus menjemput penumpang-penumpang lain dan bisa memakan waktu satu jam atau tidak tertebak.

Urusan security keberangkatan di sini ngga seribet di Indonesia bagi saya. Karena kalau di Indonesia saya harus melewati dua atau lebih pemeriksaan tas dan bagasi, maka di Perth ini cukup sekali saja. Oh ya, kebetulan saya dan Mas Delik (dosen muda dari ITB) satu pesawat kali ini. Jadi ada teman terbang deh, dan kebetulan dia duduk di 28C, sedangkan saya duduk di 29C. Maka setelah 3 jam 40 menit penerbangan, saya pun sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Sampailah saya di tanah air saya, Indonesia. Saya harus menunggu penerbangan selanjutnya untuk ke Jakarta, sekitar pukul 22.35 WITA, sedangkan Mas Delik memang berencana untuk tinggal di Bali selama beberapa hari dulu karena ada acara lain di Bali. Maka, saya pun melanjutkan penerbangan ke Jakarta, dan saya tiba di Soekarno-Hatta International Airport sekitar pukul 23.20 WIB. Saya dijemput oleh kedua kakak saya yang kebetulan sedang ada di Jakarta karena tanggal 5 kemarin ada acara keluarga dan saya tidak bisa ikut.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya banyak ngobrol dengan kakak saya. Membandingkan apa yang saya temui di sana dengan apa yang ada di sini. Saya pun banyak berpikir tentang masa depan. Perjalanan saya selama di Perth memang bukan pertama kalinya saya ke luar negeri selain waktu saya KKL ketika kuliah S1 dulu. Tapi setiap perjalanan seperti itu selalu membuat saya mendapat banyak hal untuk saya renungkan. Seperti yang pernah saya bilang, ada yang bilang ‘what a small world’, meski pada kenyataannya, dunia ini sangat luas. Banyak hal yang masih saya ingin lihat di kemudian hari. Saya bertekad dalam hati saya harus mengalami perjalanan-perjalanan baru lagi di suatu hari dan saya yakin saya bisa. Personally, idealisme saya yang menginginkan mengalami hal-hal baru di luar negeri juga harus diseimbangkan dengan nasionalisme saya sendiri agar saya tidak terjebak menjadi orang yang lupa dengan tanah air seperti banyak terjadi. Memang tidak dapat disalahkan, banyak orang Indonesia yang akhirnya tidak ingin kembali ke tanah air setelah lama tinggal di luar negeri karena misalnya, mereka tidak dihargai secara pantas seperti yang mereka dapatkan di negeri lain. Sedih memang, tapi saya sendiri harus optimis bahwa Indonesia pasti bisa lebih maju dari sekarang. Harapannya hanya ada di generasi penerus bangsa ini. Kalau pemudanya saja sudah bobrok, dapat ditebak masa depan Indonesia akan seperti apa.

So here I am. Meski saya harus meninggalkan kenyamanan kehidupan di Perth yang sudah saya ciciipi selama seminggu, saya akhirnya kembali ke Indonesia. Pada akhirnya saya meninggalkan kesenangan sebagai pedestrian yang bisa berjalan-jalan dengan nyaman di sana, meninggalkan teman-teman baru di sana, meninggalkan kemudahan untuk berpergian menggunakan transportasi publik yang bagus di sana, meninggalkan atmosfir livable city yang saya rasakan selama di sana. Paling tidak saya akhirnya bisa merasakan lagi makan kenyang tanpa harus mengeluarkan puluhan dolar setelah saya kembali di Indonesia.

Well, I think that’s all that I can say about my journey in Perth. I hope you enjoy everything that I’ve shared. I hope I can share more different stories later, and I also hope I can hear your stories too. In the end, asik atau ngga nya perjalanan bukan tergantung kemana kita pergi, sama siapa kita pergi, tapi tergantung pada kita yang bisa membuatnya asik atau sebaliknya. Goodluck.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s