Finding Happiness in Derawan Islands

“I think the most important thing is to be in a good mood and enjoy life, wherever you are.” ~ Diane von Furstenberg

Adakah yang tahu atau pernah mengunjungi Kepulauan Derawan? Kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya ke sana. Kebetulan, beberapa waktu yang lalu saya ada tugas pekerjaan ke Kota Tarakan. Mengingat letaknya yang dekat, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dari Tarakan untuk liburan ke Kepulauan Derawan. Lumayan, tiket pesawat pulang pergi jadi ditanggung kantor (oportunis!). Maka sebelum berangkat ke Tarakan, saya menghubungi Kakaban Trip yang biasa memiliki agenda perjalanan ke sana dan bergabung ke trip tersebut di menit-menit terakhir.
Kepulauan Derawan adalah sebuah kepulauan yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sedikitnya ada empat pulau yang terkenal di kepulauan tersebut, yakni Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, dan Kakaban yang ditinggali satwa langka penyu hijau dan penyu sisik. Di Kepulauan Derawan terdapat beberapa ekosistem pesisir dan pulau kecil yang sangat penting yaitu terumbu karang, padang lamun dan hutan mangrove. Selain itu banyak spesies yang dilindungi berada di Kepulauan Derawan seperti penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa, duyung, ikan barakuda dan beberapa spesies lainnya. Kepulauan Derawan ini sedang dipromosikan oleh Kabupaten Berau dan Provinsi Kalimantan Timur, sebagai salah satu wisata andalan. Lengkapnya tentang Kepulauan Derawan silakan dicek di wikipedia saja ya.
Sekarang saya ingin bercerita tentang perjalanan tur ‘Happy Maratua’ bersama Kakaban Trip selama 4 hari 3 malam.
Hari Ke-1, 4 September 2014
Setelah saya menyelesaikan tugas sekaligus audiensi dengan Wali Kota Tarakan beserta SKPD-nya, saya berpisah dari rombongan kantor untuk bergabung dengan rombongan Kakaban Trip. Kebetulan, ada Stella, rekan kantor saya juga dari Jakarta yang cuti untuk liburan ke Derawan. Saya bergabung dengan rombongan trip di Ikan Goreng Cianjur, Pasar Baru, Tarakan. Di situ kami sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke pelabuhan untuk menyeberang pulau. Saya juga berkenalan dengan Mas Ryan, tour guide saya, serta orang-orang yang masuk dalam rombongan Kakaban Trip ini. Jadi ada dua belas orang di trip kali ini, yaitu Stella dan Tantri, dua perempuan yang agak gila dan saya rasa lepas saklar otaknya (and I spent most of the time with these two scumbags, peace out guys), lalu ada Vona, Vina (si kembar yang tidak serupa) dan Kevin, pacarnya Vina yang sepertinya doyan fitnes, lalu ada tiga orang sahabat yang tidak kalah seru yaitu Gaby (mba-mba Pamulang yang suka mabok laut), Devi (dengan kamera GoPro-nya yang keren dan kontributif) dan Arista (yang suka nyanyi LDR-nya Raisa), ada juga Mba Novi dari Bandung (yang selalu asik dengan Galaxy Camera-nya), serta dua orang yang saya tidak begitu kenal karena mereka cukup pendiam.
Kurang lebih pukul 11.00 WITA, kami menggunakan speedboat menuju Kepulauan Derawan dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Di sinilah sulitnya jika ingin melakukan perjalanan ke Kepulauan Derawan dari Tarakan tanpa rombongan karena kita harus menyewa speedboat yang biayanya cukup besar kalau tidak disewa secara beramai-ramai. Anyway, saya sangat menikmati perjalanan di kapal. Kebetulan saya duduk paling belakang dan ada ruang untuk merebahkan diri. Jadi, saya tiduran di atas kapal beratapkan langit biru, rasanya luar biasa. Apalagi sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaan melalui earphones. Coba dengarkan lagu-lagu dari Family of the Year yang bernuansa tropis, itu menurut saya perfect sekali. Ya, atau lagu apapun lah yang disukai. Kalau memang doyannya dangdut juga bisa asik koq sambil menyeberangi laut.

IMG_2082

Tidak lama kemudian, goncangan kapal mulai cukup kencang sampai awak speedboat membangunkan saya untuk pindah tempat duduk untuk menyeimbangkan kapal. Ombaknya cukup kencang dan tinggi di tengah perjalanan itu. Meski mengkhawatirkan, tapi itu seru sekali. Air-air cipratan sampai masuk ke dalam menambah sensasi berpetualang. Beberapa orang dari rombongan yang tadinya tidur nyenyak pun sudah mulai khawatir dan sepertinya ada yang mabuk laut juga. Saya sendiri senang-senang saja, dan yang terasa malah lapar lagi. Hahaha. FYI, minum obat anti mabuk itu penting sekali bagi yang memang rentan terhadap goyangan ombak di laut, apalagi jika perjalanannya cukup lama.

IMG_1722

Sekitar pukul 14.00 WITA saya dan rombongan tiba di Pulau Maratua, bagian dari Kepulauan Derawan. Ketika menginjakkan kaki turun dari kapal dan melihat pemandangannya, saya benar-benar berteriak puas. Keren sekali. Langit biru luas, pasir pantai putih, dan bentangan laut jernih yang bergradasi warna biru kehijauannya. Insting untuk mengabadikan segala keindahan tersebut pun langsung ditindaklanjuti dengan kamera handphone yang seketika menangkap berbagai sudut pandang, termasuk diri sendiri.
DCIM103GOPRO
IMG_1734
IMG_1727
image
Tidak lama setelah menikmati impresi pertama tersebut, saya dan beberapa orang di rombongan harus berjalan sedikit lebih jauh karena memilih penginapan dengan kelas yang berbeda. Jadi jika punya dana lebih, kita bisa tinggal di resort di atas air, sekaligus tempat kapal berhenti, sedangkan yang memilih untuk berhemat bisa menginap di penginapan di perkampungan warga yang terletak langsung di pinggir pantai. Setelah menaruh barang di penginapan, saya kembali ke kawasan resort untuk bersantai sambil menunggu sunset. Beberapa dari rombongan sudah langsung memilih untuk berenang bermain bersama ikan, sedangkan saya lebih memilih santai sambil memotret pemandangan, termasuk memotret diri sendiri berlatar pemandangan yang keren itu. All hail, selfie! FYI, saya lupa membawa monopod atau yang lebih terkenal dengan nama ‘tongsis’. Alhasil, saya meminjam monopod kepunyaan orang yang baru saya kenal di rombongan yang namanya Tantri (Thank you, Tacur! Tantri Cungkring). Ya, saya memakai dengan jahanamnya karena bahkan monopodnya sampai saya yang bawa-bawa terus. Hahaha. Selepas sunset, saya dan beberapa orang yang juga menginap di penginapan kembali ke homestay di perkampungan warga untuk makan malam dan beristirahat karena acara keesokannya akan cukup padat.

IMG_1784

IMG_1873

IMG_1758

Hari ke-2, 5 September 2014
Malam hari sebelum memasuki hari ke-2 trip ini, Pulau Maratua diguyur hujan deras. Beberapa warga bilang anginnya pun cukup kencang dan terhitung hampir hujan badai. Saya sebenarnya menikmati hujan lebat itu karena suara hujan tersebut menambah nyenyak tidur saya. Akan tetapi, rencana mau lihat sunrise pagi haripun batal. Lalu, pagi hari setelah sarapan nasi goreng ayam dan telur mata sapi yang super lezat, kami menaiki speedboat untuk menuju Pulau Derawan. Sayangnya, karena cuaca yang kurang mendukung, kami harus menunggu sampai ombak agak lebih tenang. Sekitar pukul 09.00 WITA kami baru memulai perjalanan yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 1 jam. Perjalanan dari Maratua ke Derawan waktu itu cukup menantang karena ombak yang tinggi dan speedboat kami harus melawan arus. Tidak jarang speedboat kami sampai lompat karena melewati ombak yang deras. Asli, ini tidak kalah seru dan menegangkan dibandingkan wahana-wahana bermain di kota besar itu. Bahkan ada salah satu dari rombongan, si Gaby, yang kena ‘jackpot‘ karena tidak kuat dengan goyangan ombak di tengah laut tersebut. Well, beberapa kali goncangan speedboatnya memang mengkhawatirkan dan membuat saya banyak berdoa. Konyol sekali kalau sampai kami celaka karena speedboatnya jungkir balik di tengah liburan.
Sebelum ke Pulau Derawan, kami berhenti sebentar di Gusung Derawan, semacam daratan pasir kecil dan biasanya dipakai untuk spot foto. Sayangnya, langitnya tidak begitu biru waktu itu, jadi foto yang didapat berlatar langit seadanya saja. Seperti biasa, tidak lengkap kalau liburan ke pantai tanpa foto lompat bersama-sama rombongan. Begitulah, saya dan teman-teman rombongan difoto oleh tour guide kami dengan berbagai pose, termasuk foto lompat yang legendaris itu. Saya sendiri sempat mengambil beberapa foto pemandangan, termasuk foto ‘selfie’ dan terkejut karena muka saya sudah merah terbakar. Well, what do you expect from having vacation on beach? Kalau kata bapak saya sendiri, setelah saya pulang dari liburan ke pantai, saya berubah menyerupai kuli panggul di pelabuhan. And I was like ………. okay, Dad….

imageIMG_3678

IMG_1900

IMG_1940

Anyway, selanjutnya kami tiba di Pulau Derawan yang lebih dikenal namanya oleh orang-orang. Begitu memasuki pulau ini, suasananya memang berbeda dengan Pulau Maratua. Perkampungan warga di sini lebih terasa kampung wisatanya karena banyak penginapan-penginapan, warung, jasa tour dan travel, serta cafe dan restoran sederhana. Beberapa anak kecilpun menyapa kami dengan ramahnya. Di sini juga lebih banyak turis asing yang melakukan perjalanan. Beberapa kali anak-anak kecil menyapa kami dalam Bahasa Inggris, “Hello. Good morning!“. Dikiranya turis asia mungkin, semacam muka-muka Thailand atau Filipina. Begitu saya balas “Hello, don’t you guys go to school?“, mereka bingung “mmmm…. ng……”, and then I was like “Saya bisa Bahasa Indonesia koq, dek”. Lalu mereka hanya tertawa cengengesan. Hahaha. Di situ saya merasa perlu mengapresiasi mereka karena berarti warga setempat berusaha untuk menyiapkan diri menjadi daerah wisata, dan salah satu poin penting menjadi daerah wisata yang siap adalah memiliki SDM yang mampu berbahasa universal, dalam hal ini berbahasa Inggris.

IMG_1952

IMG_1951

IMG_3688

IMG_3698 IMG_3696
FYI, jika di Pulau Maratua hanya bisa mengandalkan sinyal Telkomsel, di Pulau Derawan ini semua provider punya sinyal yang sangat baik sehingga saya memanfaatkannya untuk update beberapa moment di social media (yep, people nowadays). Di Pulau Derawan ini, saya dan rombongan mampir makan siang dengan menu ikan bakar dan sayur yang saya tidak tahu namanya serta minum es kelapa muda yang segarnya luar biasa. Apalagi siang itu terasa panas yang tidak kalah luar biasa. Selagi menunggu yang lain menyelesaikan makannya, saya sempat bermain sepak bola asal-asalan dengan anak-anak kecil di depan tempat makan tersebut. Mereka sangat ramah dan menyenangkan sampai saya lupa panasnya cuaca yang membakar kulit saya dengan cepatnya mengingat waktu menunjukkan pukul 12 siang tepat saat itu.
IMG_1984.MOV_000007006 IMG_1985.MOV_000006118Setelah itu, saya dan rombongan lanjut berjalan menuju spot snorkeling di salah satu sisi Pulau Derawan. Begitu kami siap dengan perlengkapan snorkeling lengkap yang saya sewa seharga Rp 50.000,- per harinya, dimulailah pengalaman snorkeling kedua saya seumur hidup. Salah satu yang terkenal di sini adalah jika beruntung, kita dapat berjumpa dengan penyu selagi snorkeling di Pulau Derawan. And lucky me, saya berhasil bertemu penyu-penyu itu dua kali, bahkan dalam jarak yang sangat dekat. Betapa terkejutnya saya ketika penyu yang berukuran besar itu tiba-tiba berenang melewati bawah saya dengan tenangnya. Kali kedua saya bertemu dengan penyu yang lain dan saya pun bisa berenang beriringan, tapi dia memang lebih jago berenang dan pergi meninggalkan saya jauh-jauh hahaha.
Selain melihat penyu, banyak ikan dan batu karang yang bagus yang dapat dilihat. Saya sendiri memang tidak hapal nama-nama jenis ikan atau karang dan hanya menikmati pemandangan bawah laut tersebut. Oh ya, saya juga sempat lompat dari dermaga dengan ketinggian kurang lebih 4-5 meter dan sensasinya memang seru sekali dibandingkan lompat dari papan loncat di kolam renang hahaha. Tapi, ya menceburkan diri seperti itu memang sulit untuk menghindari air laut itu masuk ke mulut dan merasakan rasa asin yang luar biasa. Saya sendiri khawatir bisa-bisa saya darah tinggi karena kebanyakan menelan air laut selama liburan ini.
DCIM103GOPRO
IMG_3722
IMG_3950
IMG_3829IMG_1994
Puas dengan Pulau Derawan, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Sangalaki. Di sana ada penangkaran penyu dan turis bisa bermain bersama bayi-bayi penyu tersebut. Hati-hati saat memegang bayi penyu karena mereka selalu ingin berjalan menuju laut (insting mereka) sehingga mereka rawan jatuh jika diletakkan begitu saja di telapak tangan (sebaiknya pegang saja punggung dan perutnya, namun jangan sampai tertekan). Bayi-bayi penyu itu nantinya akan dilepaskan ke laut, namun menunggu ombak yang pas dan tidak terlalu kencang. Betapa takjubnya saya menyadari bahwa bayi-bayi penyu ini nantinya akan tumbuh besar sebesar penyu yang saya baru saja temui saat snorkeling yang mungkin umurnya sudah puluhan tahun. Akan tetapi, dari sekian banyak bayi penyu yang ada di penangkaran itu, peluang hidupnya terhitung kecil karena dari sekitar 15 penyu mungkin hanya 1 sampai 2 yang bisa bertahan hidup lama. Selain faktor alam, perburuan penyu untuk konsumsi maupun bahan komoditi cukup menjadi masalah yang mengkhawatirkan. Please be aware with this issue, people.
IMG_1995
IMG_2003
IMG_2055image
IMG_2034
IMG_2059
Tidak jauh dari Pulau Sangalaki, kami mengahabiskan hari dari siang ke sore dengan snorkeling lagi. Harusnya kami menuju spot snorkeling yang ada manta ray (sejenis ikan pari), tapi karena ombak yang kurang mendukung, kami melakukan snorkeling di spot yang lebih aman. Di sana saya melihat banyak ikan hias dan batu karang dengan variasi warna, ukuran, dan bentuk yang menarik. Wilayah observasinya pun sangat luas sehingga saya bisa mengeksplor pemandangan cukup banyak. Rasanya nyaman sekali menggunakan jaket pelampung dan mengambang-ambang di tengah lautan seperti itu sambil melihat pemandangan alam bawah laut yang indah.
IMG_2083
Saya dan rombongan trip mengakhiri perjalanan hari kedua sekitar pukul 17.00 WITA dan kembali ke Pulau Maratua. Di resort, saya bersantai-santai sambil menikmati sunset dan martabak manis yang disediakan di sana sebelum akhirnya saya kembali ke penginapan untuk makan malam dan beristirahat karena hari ketiga akan dimulai lebih pagi.
Hari ke-3, 6 September 2014
Perjalanan hari ini dimulai dengan petualangan ke Pulau Kakaban, masih bagian dari Kepulauan Derawan. Satu hal yang sangat terkenal dari Pulau Kakaban ini adalah, kita bisa bermain bersama ubur-ubur! Yep, that jellyfish you may see in Spongesbob Squarepants series. Setelah melewati jalan kayu di tengah hutan, saya langsung takjub dengan pemandangan keren entah laut atau danau  ubur-ubur tersebut. Setelah menceburkan diri, saya seketika kaget karena banyak sekali ubur-ubur di perairan tersebut dan mereka literally ada di sekitar kita dan berenang bersama. Sensasi memegang ubur-ubur itu lucu sekali karena mereka kenyal seperti agar-agar dan saya menahan diri agar tidak sampai memencetnya terlalu keras karena gemas. Saya berhasil berinteraksi dengan ubur-ubur berwarna cokelat yang banyak sekali jumlahnya dan ubur-ubur transparan yang cukup jarang, dan kedua jenis tersebut bisa dipegang karena tidak beracun.
IMG_2135
IMG_4009
IMG_4015
IMG_4071
IMG_2155
Setelah puas bermain dengan ubur-ubur, saya dan rombongan sempat menghabiskan waktu untuk memotret pemandangan di sana karena memang bagus sekali. Sampai akhirnya saya dan Tacur mencoba untuk ‘selfie’ menggunakan tongsis di dermaga kayu tersebut. Tebak apa yang terjadi. Akibat tidak hati-hati, handphone saya lepas dari jepitan tongsis tersebut dan sukses jatuh kecemplung ke dalam danau ubur-ubur itu. Sejenak saya seperti shock dan dengan tenangnya melihat handphone tersebut tenggelam di tengah keributan orang-orang yang berteriak kaget melihat kejadian itu. Sampai saya sadar keberadaan handphone saya di dasar air, saya langsung menceburkan diri dan mengambilnya dengan pandangan kabur karena tidak sempat lagi memakai google snorkeling (tidak sadar juga, tangan, badan, dan kaki saya sudah membentur kayu-kayu dermaga tersebut).
Ajaibnya, handphone saya masih menyala dengan posisi mode kamera yang masih menyala dan wajah si Tacur masih mejeng di layar handphone saya itu. Teman-teman yang lain langsung menyarankan ini dan itu sebagai langkah penyelamatan handphone saya dari kerusakan. Jujur, yang paling saya khawatirkan adalah semua data dan foto-foto liburan saya yang belum saya back-up itu. Damn, such a bad luck! Funny, but still, damn it!
Setelah menyudahi pengalaman berenang bersama ubur-ubur itu (termasuk pengalaman handphone kecemplung ke danau), kami hendak melanjutkan perjalanan untuk mencari spot snorkeling. Cerita seru lainnya adalah karena ombak yang cukup besar, speedboat kami tidak bisa merapat ke dermaga sehingga kami harus berjalan kaki menerjang ombak agar bisa sampai ke speedboat. And it was difficult. Ombaknya cukup kencang dan berkali-kali membuat saya terjatuh karena berjalan di atas pecahan-pecahan karang dengan sandal jepit itu susah! Setelah mencoba melepas sandal pun, korbannya adalah telapak kali saya yang memar-memar. Ya sudahlah, pengalaman. Terlebih pikiran saya masih tidak bisa konsentrasi pasca kejadian handphone kecemplung air. Sialnya ketika saya coba cek kondisi handphone saya lagi di dalam tas, ternyata sudah mati dan tidak bisa saya nyalakan.
Jujur, saat melanjutkan perjalanan dan tiba di spot selanjutnya, yaitu sebuah laguna di daerah Kakaban, saya tidak bisa begitu menikmati karena memikirkan nasib handphone dan seisi-isinya itu. Padahal, spot tersebut terhitung cukup indah pemandangannya. Setelah melewati gua yang mengharuskan saya dan rombongan berjalan jongkok dan sesekali kesulitan mencari pijakan yang pas karena dasarnya adalah pecahan batu karang, kami disajikan pemandangan alam yang keren, laguna berwarna biru kehijauan dan kita bisa bermain dengan bintang laut. Oh iya, Tacur sempat terkena alergi, entah karena terkena batuan, binatang, atau memang alergi dengan airnya, sampai beberapa bagian tubuhnya muncul bercak dan bentol kemerahan. Reaksinya sangat cepat dan katanya gatal dan panas. Kata tour guide, beberapa yang kulitnya sensitif memang pernah mengalami kejadian serupa, tapi nantinya akan hilang dan sebaiknya dibantu dengan dioleskan salep anti alergi.
IMG_4262
IMG_4228
IMG_4221 IMG_4200
Setelah dari spot tersebut, kami dibawa oleh speedboat ke lokasi tidak jauh dari situ untuk spot snorkeling. Di situlah salah satu pengalaman snorkeling yang menurut saya kerens sekali. Warna biru yang pekat benar-benar jelas di depan mata. Benar-benar biru yang sangat indah. Jadi, spot snorkeling kami adalah tempat yang biasa disebut wall point atau perbatasan dari laut yang kedalamamnya rendah dengan banyak batu karang, dengan laut yang memiliki kedalaman sangat dalam. Saya akui, saya takjub dengan pemandangan dalam laut tersebut. Selain bertemu dengan berbagai macam ikan yang aneh-aneh yang saya tidak tahu jenisnya, saya beruntung karena sekali lagi melihat penyu berenang di bagian laut yang sangat dalam tersebut. Rasanya melihat pemandangan seperti itu di depan mata sendiri itu menakjubkan! FYI, kalau kata beberapa dari rombongan yang terhitung sering snorkeling atau diving, batu karang atau coral di Pulau Kakaban itu cukup biasa, tapi memang variasi ikan-ikan lautnya cukup banyak. Well, for me, it’s already amazing because I don’t have that many comparation.
IMG_4275
IMG_4290 IMG_4282 IMG_4264
IMG_4343 IMG_4295Sesudah dari spot snorkeling yang keren itu, kami sempat kembali ke resort untuk makan siang dan istirahat terlebih dahulu sebelum lanjut ke lokasi berikutnya. Di resort, saya kembali mencoba peruntungan untuk menyalakan handphone saya. Thank God, handphone saya mau nyala! Meski demikian, sepertinya baterainya rusak karena setelah saya coba charge, notifikasi baterainya berhenti di angka 65%. Jadi saya tidak tahu kapan baterai saya lowbatt. Saya berharap paling tidak sampai Jakarta saya masih bisa backup semua data sebelum saya bawa ke tukang service. Semoga dewa ubur-ubur yang meminta tumbal di Danau Kakaban tadi mau berbaik hati memperpanjang umur handphone saya itu.
Lokasi selanjutnya yang kami kunjungi adalah Gua Haji Mangku. Awalnya saya tidak ada gambaran sama sekali lokasi seperti apa Gua Haji Mangku ini. Setelah melewati track yang membutuhkan alas kaki yang lebih mumpuni ketimbang sandal jepit semahal apapun, tour guide kami, Mas Ryan, menunjukkan kolam di bawah tebing yang warnanya biru gelap yang cantik sekali. Kamipun diajak melewati lorong gua yang memerlukan kehati-hatian dalam melangkah sampai akhirnya bisa menceburkan diri ke kolam itu. Sensasi pertama yang saya rasakan adalah, dinginnya air yang luar biasa. Mungkin karena tidak terpapar matahari langsung dan diapit tebing serta memiliki kedalaman kurang lebih 20 meter, airnya jadi terasa dingin sekali. Lucunya, selagi menghabiskan waktu di sana, saya dan teman-teman rombongan mulai melemparkan kalimat-kalimat bercandaan yang makin ngelantur dan tidak habis-habisnya tertawa. Katanya, saat berada di suhu yang dingin, orang memiliki tendensi menjadi lebih santai pikirannya, atau gila kalau kata saya, sedangkan jika kepanasan maka orang lebih mudah emosi. Mmmm, bisa jadi.
IMG_4349 IMG_4386 IMG_4389
Tanpa saya melihat waktu sudah pukul berapa, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Nabucco. Konon katanya pulau ini sudah dipenuhi oleh vila-vila dan resort asing, jadi turis-turis yang hanya sekedar mampir dan tidak menginap di resort di sana harus menjaga ketenangan karena bule-bule yang ada di sana ingin memiliki privasi dan ketenangan. Mmmm, I was like, what? Well yeah, money can buy anything. Di Nabucco Island ini kami hanya bersantai sambil menyantap semacam pancake cokelat dan menikmati pemandangan yang memang bagus. Oh iya, di sini banyak sekali jasa menyelam atau diving yang dapat disewa dengan kisaran harga Rp 400.000 – 500.000,- untuk waktu 30 menit, tapi saya kurang tahu mengenai diving license-nya. Kata orang-orang sih itu hitungannya cukup murah.
IMG_2252
IMG_2244 IMG_2275 IMG_2264 IMG_2286
Di perjalanan pulang menuju resort di Pulau Maratua, kami juga bertemu dengan kawanan lumba-lumba. Mereka banyak sekali dan berenang tidak jauh di kanan dan kiri speedboat kami! Bahkan ada yang sampai muncul ke permukaan air dengan melompat secara vertikal dan berputar dengan cantiknya seperti suatu atraksi. Lucunya, teman-teman di rombongan beramai-ramai mencoba mengabadikan kawanan lumba-lumba tersebut. Kalau ada yang berteriak “Di kiri! Di kiri!”, maka hampir semua orang berusaha bergerak dan melihat ke sisi sebelah kiri, sampai-sampai speedboat kami hampir oleng karena berat sebelah. Saya sendiri menyerah berusaha mengambil gambar lumba-lumba yang muncul tak beraturan itu karena gerakan mereka yang sangat cepat.
IMG_2287 IMG_2294
Puas melihat lumba-lumba, kami tiba kembali di Maratua Resort bertepatan dengan sunset. Layaknya orang kebanyakan, saya dan teman-teman rombongan pun mengambil gambar-gambar siluet yang standar kalau ada sunset itu. Hahaha. Meski begitu, hasilnya bagus dan menarik karena latar lautan luas yang keren itu. Selepas sunset, saya dan beberapa dari rombongan menghabiskan waktu dengan berenang di perairan di bawah Maratua Resort itu, sekedar bersantai sambil mengambang-ambang di laut. Kapan lagi? Hehehe. Oh iya, di situ sempat ada penyu yang lewat sebanyak dua kali. Bahkan saat saya melihatnya di waktu yang kedua, penyu tersebut melewati samping saya dengan santainya. I felt amazed.
IMG_4455 IMG_3539
Malamnya, setelah saya menghabiskan makan malam, saya memutuskan untuk nongkrong di bar restoran resort bersama teman-teman rombongan ditemani snack dan beberapa botol bir. Mengingat besok adalah hari terakhir trip ini, jadi kami ngobrol-ngobrol banyak sambil bersantai saja. Puas nongkrong di sana, saya dan beberapa teman yang menginap di homestay memutuskan untuk kembali supaya bisa beristirahat karena ada rencana melihat sunrise keesokan paginya. Saya dan dua teman yang lain, Stella dan Tacur, meminjam motor salah satu tour guide untuk kembali ke homestay. Sialnya, karena stang motor yang dimodifikasi menjadi lebih pendek membuat saya kesulitan mengemudikannya, apalagi di jalan setapak berpasir. Alhasil, sempat dua kali saya dan Stella yang saya bonceng hampir terjatuh. Bukannya lebih hati-hati, kami malah makin cekikikan karena merasa bodoh bisa-bisanya hampir jatuh naik motor lagi liburan begini. Nope, I wasn’t drunk, it was total accident. Hahaha. Sesampainya di homestay, saya pun langsung beristirahat agar badan tetap kuat mengikuti agenda perjalanan hari berikutnya.
Hari ke-4, 7 September 2014
Hari ini diawali lebih pagi dari biasanya karena malamnya, Mas Ryan bilang akan mengajak kami melihat sunrise dari dekat homestay. Saya setel alarm pukul 04.45, dan saat terbangun, saya mendengar suara gemericik air dari luar jendela sehingga saya anggap rencana melihat sunrise batal karena hujan. Jadilah saya kembali menarik selimut dan tidur lagi dengan senang hati. Tiba-tiba ada suara ketukan keras di pintu kamar dan panggilan, “Mas Yoga, Mas Yoga”. Saya pun dengan kondisi setengah terlelap membuka pintu kamar, “Hah, emang jadi mas? Bukannya hujan?”, tanya saya sambil menyesuaikan mata dengan cahaya lampu. “Jadi, Mas. Ngga hujan koq. Itu suara gemericik air yang Mas dengar itu suara air tandon yang tumpah kepenuhan”, kata Mas Ryan menjelaskan dan dia sudah siap sambil memegang senter. And I was like having a flat face moment after realizing that. Jadi, buru-burulah saya karena ternyata rombongan yang lain sudah berada di atas mobil bak terbuka siap-siap diangkut menuju dermaga tempat untuk melihat matahari terbit.
Sesampainya di lokasi yang berjarak kurang lebih 10 menit dari tempat saya menginap itu, saya dan rombongan harus terlebih dahulu menyusuri jembatan dermaga yang kayunya sudah agak lapuk dan beberapa baris ada yang sudah lepas. Berbekal senter dari handphone, saya berjalan dengan hati-hati agar tidak salah melangkah sampai akhirnya mencapai ujung dari dermaga tersebut dan menjumpai pemandangan yang cukup menarik. Sebenarnya, kami kurang beruntung karena mataharinya sempat tertutup awan. Meski demikian, semburat jingga kemerahan masih dapat terlihat didukung dengan komposisi pemandangan perairan berwarna biru kehijauan dan pepohonan serta beberapa tanaman mangrove, ditambah lagi kapal-kapal kayu sederhana yang bersandar di sekitar dermaga sehingga menambah keeksotisan pemandangan pagi itu. Sedikit kekecewaan tidak mendapat moment sunrise yang sempurna cukup tergantikan dengan penyu-penyu yang seringkali muncul dan berenang-renang di sana sambil mencari ranting dan rerumputan di dasar air untuk dimakan. Jadi, bangun pagi-pagi sekali di hari itu cukup terbayar dengan apa yang saya dapat.
DCIM103GOPRO
IMG_2425 IMG_2448 IMG_2404
Setelah menyelesaikan sarapan nasi kuning dengan telur bumbu sambal yang sedap, saya dan beberapa dari rombongan yang menginap di homestay berjalan menuju resort untuk menunggu speedboat yang akan datang menjemput kami. Sepanjang perjalanan kurang lebih 500 meter saya tempuh berjalan kaki di pinggir pantai itu saya rekam baik-baik keindahannya, pasir putihnya, langitnya yang cerah, warna biru laut yang bergradasi dari biru kehijauan sampai ke biru tua yang membentang seperti tak terbatas luasnya, serta suara angin dan ombak yang terus-terusan berderu di telinga yang terdengar seperti sapaan ramah dari Pulau Maratua.
IMG_1765
Pagi itu, saya memilih untuk santai di luar restoran resort sambil menyantap snack pagi dan segelas teh susu, menikmati pemandangan dari tempat duduk kayu favorit saya. Rasanya seperti ingin meminta 10 menit lagi saja. 10 menit lagi untuk menikmati semua pemandangan tersebut dalam diam. 10 menit untuk lagi-lagi mensyukuri keindahan yang diberikan oleh Tuhan. Dan mungkin 10 menit lagi untuk mengabadikan semua keindahan tersebut dalam kamera supaya terus terekam dan bisa menunjukkan kepada yang lain betapa bagusnya Kepulauan Derawan itu.
IMG_2481
imageIMG_2494 IMG_1736
IMG_2486Pukul 09.30 pun kami sudah harus beranjak meninggalkan Maratua Paradise Resort karena sayangnya perjalanan yang menyenangkan ini harus berakhir. Jakarta sudah menunggu dan memanggil saya untuk kembali bertemu dengan setumpuk pekerjaan dan urusan yang harus saya selesaikan. Oh iya, sesampainya di Kota Tarakan setelah menyeberangi lautan selama 3 jam dan makan siang, kami sempat diajak untuk mengunjungi Hutan Mangrove yang juga berisikan kera-kera bekantan yang menjadi maskot Dufan yang terkenal itu. Dilanjut dengan membeli oleh-oleh khas setempat dimana saya harus memiliki tanggung jawab moral membelikan paling tidak snack atau makanan untuk orang-orang di kantor. Saya juga membeli kain khas Tarakan untuk ibu saya agar dia tidak rewel kalau saya hanya pulang beroleh-olehkan cerita dan foto-foto saya yang seru itu.
DCIM103GOPRO
Overall, my trip to Derawan Islands was awesome! It left a big mark on my heart and a whole new experience. And it also left a clear mark on my face. Yap, muka dan badan saya terbakar dengan jelasnya.
Saya belajar banyak dari perjalanan ini agar mempersiapkan diri dan perlengkapan traveling dengan lebih baik lagi. Mengenali daerah tujuan itu penting! Kalau memang tahu kita akan berwisata ke pantai, laut, atau yang berkarakter perairan, maka peralatan-peralatan yang waterproof itu penting hukumnya. Misalnya membawa ziplock anti air untuk menempatkan alat elektronik terutama handphone agar tidak kejadian seperti yang saya alami. Lalu berwisata ke pantai memang pas rasanya kalau pakai sandal jepit, tapi kalau dalam itinerary-nya ada spot-spot yang track-nya lebih sulit, sebaiknya menggunakan sepatu sandal yang grip-nya di kaki lebih mantap. Selain itu, menggunakan sunblock secara merata pada bagian tubuh yang terpapar matahari itu penting. Bukan untuk menghindari kulit yang menghitam (karena kulit menggelap itu pasti), tapi menghindari kulit perih terbakar. Penting juga untuk memiliki handphone yang terpasang provider yang reachable di daerah-daerah pelosok, dan untuk di Indonesia sendiri, Telkomsel masih yang paling dapat diandalkan. Tambahannya, kalau punya underwater camera akan menambah amunisi jalan-jalan.
Masalah menggunakan jasa tour trip atau mengatur semuanya sendiri itu kembali kepada pilihan. Kalau saya pribadi, jika destinasinya cukup sulit atau merepotkan, dan ada dana lebih, saya merekomendasikan untuk menggunakan jasa tour trip. Kenapa? Karena semuanya sudah diatur dan mereka lebih paham spot-spot yang menarik dan akan memfasilitasi kita dengan sangat baik. Saya menjumpai beberapa orang yang berkunjung ke Kepulauan Derawan tanpa tour trip. Mereka cukup kerepotan karena harus bolak-balik mencari dan menjadwalkan kapal atau speedboat untuk mengantar jemput mereka. Mereka pun juga tidak punya jaket pelampung serta alat snorkeling yang dapat digunakan setiap saat sehingga di beberapa spot yang membutuhkan dukungan peralatan tersebut, mereka tidak bisa menikmati dengan maksimal. Tapi kembali lagi, jika memang lebih suka merencanakan semua perjalanan sendiri, just do it.
IMG_2238
That’s it. I think it’s quite a lot story to tell you about Derawan Islands. It’s worth to visit, and really pay the price. Happy vacation!

PS: the under water pictures credits to Kakaban Trip (Mas Ryan) and some also from Devi (if you notice the wide lens pictures taken from her awesome GoPro)

Advertisements

One thought on “Finding Happiness in Derawan Islands

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s