Hello (again), Semarang :)

Memanfaatkan waktu untuk berlibur di tengah pekerjaan itu pasti bagi sebagian besar orang adalah hal yang menyenangkan, begitu pula bagi saya. Baru-baru ini saya ditawarkan oleh supervisor saya untuk tugas luar kota ke Semarang. Tanpa pikir panjang, sayapun mengiyakan tawaran tersebut.  Opportunist! Moreover, my girlfriend is staying there, so I don’t have to spend my money for travel cost to visit her!

Semarang itu spesial bagi saya. Saya menghabiskan banyak masa hidup saya di Semarang untuk sekolah dari kecil. Kebetulan saya dibesarkan dari keluarga militer yang seringkali pindah-pindah tempat tinggal, tapi akhirnya saya memutuskan untuk menetap di Semarang, sedangkan orang tua di Jakarta. Hampir 17 tahun menghabiskan waktu di Semarang tentu memberikan banyak kenangan tersendiri bagi saya.

Processed with VSCOcam with lv01 preset

Saat ini, Ayu, pacar saya, lalu keluarga kakak pertama saya, tinggal di Semarang. Kesempatan dinas ke luar kota ini tentu saja saya manfaatkan untuk menemui mereka. Saya ditugaskan selama 5 hari di Semarang untuk mengumpulkan informasi dan mewawancarai beberapa orang yang terlibat dalam proyek Flood Early Warning System yang merupakan kolaborasi pekerjaan kantor saya, partner lokal, dan Pemerintah Kota Semarang. Setiap saya selesai melakukan pekerjaan selama di Semarang, saya selalu menyempatkan bertemu dengan kakak saya dan istrinya, dan terutama ingin bermain dengan Nanta, keponakan pertama saya yang berusia 3,5 tahun dan sedang lincah-lincahnya serta senang memamerkan hobinya yang baru, yaitu menggambar. Selain itu, tentu saya juga menyempatkan untuk bertemu dengan Ayu untuk sekedar makan malam bersama dan menghabiskan waktu membicarakan banyak hal.

Dari sekian hari di Semarang, hari yang paling saya tunggu adalah Sabtu dan Minggu. Kebetulan, saya sudah janjian dengan Benino untuk ke Semarang sekalian menengok Ayu karena sudah lama kami tidak bermain bertiga. Sebelum kami semua bekerja di kota-kota yang berbeda, saya menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir di Semarang bersama Benino karena teman-teman dekat yang lain pun sudah tidak di Semarang lagi. Dari situpun, Benino menjadi sahabat dekat Ayu yang sudah dianggap layaknya saudara laki-lakinya. Sering kali Ayu cerita kalau dia kangen Benino, kangen main bertiga. Kadang saya suka geli sendiri melihat kami bertiga yang bertingkah seperti Marshall, Lily, dan Ted dari serial favorit kami, How I Met Your Mother. Anyway,  tahu bahwa saya dan Benino sudah janjian untuk bertemu di Semarang, otomatis membuat Ayu senang sekali, apalagi dia sedang jenuh-jenuhnya dengan pekerjaannya di bank yang cukup intens akhir-akhir ini.

Petualangan dua hari di Semarang kami mulai dengan Benino yang menyambangi saya ke hotel tempat saya menginap sebelum akhirnya Kak Eka datang untuk mengantarkan mobilnya agar bisa kami pakai untuk jalan-jalan. Rencananya, saya dan Benino akan menjemput Ayu setelah itu. Tak disangka, Semarang siang itu terasa panas sekali. Bahkan AC mobil serasa tidak mempan menahan udara panas yang biadab itu dari luar. Tak jarang kami berteriak kepanasan seperti dipanggang dalam oven sambil menyeka keringat. “Ini akibat perubahan iklim! Gila!”, tak sekali saya menyerukan keluhan saya itu yang ditimpali Benino dengan nyinyir karena dia tahu bidang pekerjaan saya yang berkaitan dengan perubahan iklim. “Bodo amat. Gila. Ini panas banget!”. Dan begitulah kami menghabiskan waktu di jalan sampai akhirnya tiba di rumah Ayu.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan ayahnya Ayu yang puas menyindir Benino yang masih saja jomblo, akhirnya kami bertiga pamit pergi. Tujuan kami adalah Pondok Wisata Umbul Sidomukti yang ada di Kabupaten Semarang yang kurang lebih bisa ditempuh selama 45-60 menit lewat tol. Tidak jauh dari kami melewati gerbang tol pertama, petualangan yang sebenarnya pun dimulai. Radiator mobil kakak saya pecah. Damn! Kenapa harus sekarang?! Buru-buru saya meminggirkan mobil Toyota Corona kakak saya itu di bawah jembatan tol agar bisa memeriksanya dengan sedikit lebih teduh. Setelah membuka kap mobil, nampaklah radiator mobil yang pecah dan sudah memuncratkan air coolant-nya kemana-mana. Dengan tetap tenang (berusaha tenang), saya menelpon kakak saya, Benino memeriksa mesin mobil, Ayu menelpon ayahnya. Akhirnya, kami pun menghubungi Jasa Marga untuk minta dikirimkan mobil derek agar mobilnya bisa dibawa ke bengkel terdekat.  Itupun menjadi pengalaman pertama saya dan Ayu menaiki mobil yang diderek (dan ini menjadi pengalaman kedua bagi Benino setelah dulu mobil Maestro-nya zaman kuliah mengalami kejadian serupa, lebih parah malah).

IMG_2667IMG_2669IMG_2671 IMG_2673

Setelah bernegosiasi dengan sopir dereknya, saya harus merelakan uang Rp 175.000,- sebagai ongkos jasa derek (katanya, jasa derek dari Jasa Marga hanya gratis kalau diantar sampai keluar tol). Selagi Benino mengkomunikasikan masalah mobil kakak saya dengan tukang bengkel, saya berusaha menghubungi rekan saya yang punya jasa rental mobil, sedangkan Ayu mencoba menghubungi taxi untuk mengantar kami ke tempat rental mobil. Heck yeah, teamwork! Dan begitulah, mobil kakak saya kami tinggal di bengkel, kami pun naik taxi ke Jatingaleh, tempat saya janjian dengan Mas Tommy yang untungnya masih punya stok satu mobil rental tersisa.

Awalnya saya sempat gugup mengendarai Toyota New Innova keluaran 2014 yang kami sewa. Apalagi Mas Tommy berpesan, “Balik kondisi mulus ya, Mas”. Ya iyalah Mas, masa mau saya sengaja tabrak-tabrakin. Benino pun tidak tahan berkomentar melihat saya menyetir, “Yaelah, Ga, tegang amat lo nyetirnya hahaha”. Saya hanya menanggapi singkat, “Mobil mahal, jir. Mana baru, mau dibawa naik bukit pula.” Dan seiring waktu saya mulai rileks dan asik mengendarai mobil baru itu. Memang beda sih naik mobil mahal. Hahahaha.

IMG_2758

Untungnya, jalanan lancar sekali saat itu. Setelah melewati rute yang cukup sulit karena banyaknya tanjakan terjal dan jalanan sempit, kami sampai di Pondok Wisata Umbul Sidomukti sekitar pukul 15.45 sore. Rasanya, perjuangan dari mobil mogok siang sebelumnya terbayar begitu melihat pemandangan dari atas ketinggian Umbul Sidomukti tersebut. Pegunungan yang hijau, seimbang dengan bayangan kegelapan lembah yang lembut, konfigurasi awan yang menarik, pandangan mata yang tak terbatas ruang serta udara yang sejuk, kesemuanya menjadi kombinasi yang memuaskan!

IMG_2915

Tujuan utama kami yang saat itu kelaparan setengah mati adalah mencari makan di Pondok Kopi Sidomukti yang kata Ayu terkenal dengan nama ‘Kafe di Atas Awan’, which is menurut saya nama bekennya itu agak-agak disturbing hahaha. Meski demikian, apa yang saya dengar selama ini memang betul. Kafe yang mengandalkan meja dan bangku kayu khas outdoor dining itu betul-betul menarik. Sayangnya, makanan dan minumannya memang bukan yang sangat lezat atau bagaimana. Intinya, orang-orang ke sini lebih ke membeli suasana. Oh ya, kalau pesan makanan atau minuman hangat di sini sebaiknya cepat dihabiskan karena udara di sana cukup cepat membuat makanan dan minuman hangat menjadi dingin. “Cepetan dihabisin minum lo, Yu. Entar nambah lima ratus kalo jadi dingin.”, kata Benino memberitahu Ayu. “Koq bisa?”, balas Ayu. “Ya kalo lo pesen yang anget sama yang es kan harganya beda, Yu. Hahahaha”, maksudnya bercanda. Tapi memang betul. Bukan harga teh hangatnya yang berubah kalau jadi es teh, tapi udara di sana memang sangat sejuk apalagi kalau angin bertiup. Padalah siang sebelumnya kami tengah kepanasan di dalam mobil di Semarang.

IMG_2674

IMG_2683IMG_2703 IMG_2709 Processed with VSCOcam with g3 preset

Setelah puas menikmati pemandangan, mengambil gambar panorama di sana, dan tentunya foto-foto sendiri, berdua, bertiga (dengan bantuan lazypod kebanggaan Ayu yang dia claim sebagai teknologi lebih canggih dari monopod atau tongsis), kami memutuskan pulang karena kami berencana mau mampir menengok Nanta di rumah kakak saya sebelum lanjut makan malam. Sepanjang perjalanan menuruni kawasan wisata tersebut, kami menikmati pemandangan dengan membuka jendela dan merasakan udara sejuk tersebut sambil sesekali bergumam norak, “Wow, keren ya….”

IMG_2785

Sebelum kami sampai ke rumah kakak saya, Benino meminta untuk mampir ke toko mainan karena dia mau membelikan hadiah untuk Nanta yang sudah dia anggap seperti keponakannya sendiri (dulu waktu saya dan Benino masih di Semarang, Nanta justru lebih dekat dengan Benino ketimbang saya, om kandungnya). Benino pun membelikan remote control untuk Nanta dan sesampainya di rumah kakak saya diterima keponakannya itu dengan sangat senang hati. Apalagi Nanta juga sudah lama tidak bertemu Benino dan Ayu. Kami menghabiskan waktu sambil ngobrol-ngobrol dengan Kak Eka dan Mba Keke. Mereka banyak menceritakan tentang perkembangan Nanta. Salah satu yang menarik adalah kecenderungan Nanta yang menggunakan tangan kiri dan menurut saya itu sangat sangat keren!

Mengingat waktu yang sudah agak malam, kami lanjut mencari makan malam di restoran baru di Semarang. Ayu banyak sekali merekomendasikan tempat-tempat baru yang bermunculan di Semarang. Padahal rasanya baru sekitar 8 bulan saya dan Benino meninggalkan Semarang, tapi banyak sekali tempat hang out baru di sana. Well, good to know that Semarang is getting more investors and developing its strength on culinary.

Setelah merekomendasikan berbagai tempat, kami pun memutuskan untuk makan malam di Largo Bistrot & Bier Garten. Setelah menunggu empat waiting list, kami mendapat tempat di atas dan dengan rakusnya memesan berbagai menu pasta, pizza, dan beer sampai kekenyangan luar biasa. But indeed, the pasta tastes great, but for the pizza, I still prefer Massimo Pizzeria if you ask for a recommendation in Semarang. Oh ya, yang menyenangkan lagi adalah, harga makanannya terbilang murah dibandingkan dengan menu dan rasa yang ngga jauh berbeda dengan restoran di Jakarta.

IMG_2761

Keesokan harinya, kami menghabiskan waktu di kawasan Bukit Semarang Baru (Ngaliyan) setelah saya dan Benino dijemput Ayu dari rumah kakak saya (dan dengan berat hati saya berpamitan dengan Kak Eka, Mba Keke, dan tentunya Nanta). Sebelumnya kami sempat mampir mencari es krim saking kepanasannya dan setelah itu mengantar Kak Eka untuk mengambil mobilnya yang kemarin masuk bengkel. Sesampainya di Lakers Club: Lounge & Resto, saya meninggalkan Ayu, Benino, dan salah satu teman yang lain yang bergabung di sana. Saya harus menyempatkan diri mengikuti simulasi evakuasi penyelamatan banjir untuk proyek dari kantor saya yang lokasi kelurahannya tidak jauh dari situ. Di luar dugaan, simulasi tersebut sangat seru dan saya sangat menikmatinya. Jadi, warga kelurahan yang sudah memiliki ‘kelompok siaga bencana’ tersebut memraktikkan pengetahuan mereka dari pelatihan-pelatihan untuk menyiapkan diri saat akan terjadi banjir sehingga dapat meminimalisir dampak kerugian. Warga setempat sangat antusias memainkan peran dari yang bertugas berkoordinasi melalui HT, pengeras suara masjid, menyiapkan tali tambang untuk menyelamatkan warga yang butuh pertolongan ke flood shelter yang lokasinya lebih tinggi, ibu-ibu yang menyiapkan dapur umum, dan sebagainya. Saya sendiri merasa senang karena proyek kantor saya terbilang berhasil diterima oleh masyarakat.

Setelah saya kembali ke Lakers sekalian menyusul makan siang yang terlambat, kami ngobrol-ngobrol sebentar di sana yang kebanyakan topiknya lebih ke nostalgia dan rencana-rencana ke depan. Lagi-lagi, pembahasan tidak jauh dari pekerjaan dan isu hangat mengenai jodoh dan pernikahan. Umur-umur segini entah kenapa di kalangan seumuran saya selalu berkutat di topik-topik tersebut. Menjelang sore, kami pun beranjak dari sana karena Benino dan saya harus mengejar penerbangan untuk kembali ke kota kerja masing-masing. Benino ke Surabaya Utara (read: Madura), dan saya ke Jakarta, sedangkan Ayu tetap di Semarang.

IMG_2797

Time went by and we had to say goodbye. Saying goodbyes is sucks, I know. It was never easy. Though you know, or you believe that you’ll meet again, it still sucks. Moreover, you know that you’re really enjoying the moments, with people you are really comfortable with. Semarang is special, and this weekend is shortly feels like a reunion, remembrance of my last couple of years in Semarang where we shared a lot of good memories together. It’s like traveling back time, and it wasn’t enough. While I was waiting for my plane to come, I frequently whispered to myself, could I have another 10 minutes to spend with them? Could I have another 10 minutes more? I know it’s silly, but that’s what I wished for.

The time is ripe for looking back over the day, the week, the year, and trying to figure out where we have come from and where we are going to, for sifting through the things we have done and the things we have left undone for a clue to who we are and who, for better or worse, we are becoming. But there is a deeper need yet, I think, and that is the need—not all the time, surely, but from time to time—to enter that still room within us all where the past lives on as a part of the present, where the dead are alive again, where we are most alive ourselves to turnings and to where our journeys have brought us. The name of the room is Remember—the room where with patience, with charity, with quietness of heart, we remember consciously to remember the lives we have lived.” ~  Frederick Buechner

You always have those persons that you want to visit, to meet frequently, to spend your time with, hang around, do things together, or just to chat around sharing stories and stuffs. And time flies so fast when you have a really good time.

It was an awesome weekend, such happy days. I never knew that I would be so sad leaving the moment. But, hey. There are many new moments to come, right? I can’t wait for that. See you when I see you!

IMG_2904

Oh, and see you again Semarang 🙂

IMG_2660

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s