Discovering Lombok in December

Di penghujung tahun 2014 ini, saya menyempatkan liburan ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sudah dari pertengahan tahun saya membeli tiket, meskipun tidak mendapat harga yang murah murah banget mengingat saya mengambil tanggal high season di tengah liburan natal. Keputusan mengambil liburan akhir tahun ini sangat impulsif, diawali obrolan ringan dengan Benino via whatsapp, membicarakan tentang kebosanan dan keinginan untuk jalan-jalan dan diakhiri dengan memesan tiket ke Lombok. Kamipun mengajak Ayu dan Laura untuk bergabung dengan rencana liburan impulsif kami tersebut, dan akhirnya dari tanggal 25-28 Desember 2014 yang lalu kami mengunjungi tempat-tempat seru di salah satu pulau utama Nusa Tenggara Barat tersebut.

Mengutip dari Wikipedia, Pulau Lombok mencapai luas kurang lebih 5.435 km² dan secara administratif terdiri dari 4 kabupaten (Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara), dan 1 kota (Mataram). Berdasarkan informasi, Selat Lombok menandai batas flora dan fauna Asia. Jadi, mulai dari pulau Lombok ke arah timur, flora dan fauna lebih menunjukkan kemiripan dengan flora dan fauna yang dijumpai di Australia daripada Asia.

Perjalanan saya kali ini bisa dibilang tidak begitu disiapkan dengan begitu matang. Padahal saya punya waktu hampir setengah tahun untuk mengurus ini itu. Sayangnya saya terlalu disibukkan dengan pekerjaan sampai sedikit mengesampingkan persiapan liburan ini. Urusan-urusan seperti penginapan saja baru beres seminggu sebelum berangkat dan itupun saya minta bantuan Mba Husnul, teman saya saat menempuh studi master dulu. Bahkan urusan mobilisasi atau rental baru saya urus di sana langsung. Untungya itinerary sudah saya susun jauh-jauh hari, jadi tetap sudah ada gambaran perjalanan selama 4 hari 3 malam tersebut.

Without further ado, saya bersama Benino dan Laura berangkat dari Jakarta menggunakan penerbangan pukul 05:50 WIB dan tiba di Mataram pukul 08:55 WITA, sedangkan Ayu berangkat dari Semarang siang hari dan tiba di Mataram pukul 14:45 WITA. Jadi, seperti yang sudah direncanakan, sambil menunggu Ayu tiba, kami bertiga diajak oleh Mba Husnul dan temannya untuk mengunjungi pantai-pantai yang letaknya tidak begitu jauh dari Bandara Internasional Lombok, Praya. Sorry, Ayu, you missed couple of awesome spots!

First spot, Pantai Mawun! Oh, ya. Sebelum sampai di Pantai Mawun, kami sempat berhenti di tanjakan yang menjadi semacam view point dengan pemandangan laut yang bagus sekali. Katanya, dulu lokasi view point itu publicly accessible, tapi sekarang sudah dibeli oleh pihak privat dan diubah menjadi sebuah kafe. Jadi kamipun mengambil beberapa gambar pemandangan dari pinggir jalan saja.

View Point, on the way to Mawun Beach

Setelah melewati jalan yang berbukit-bukit, kami tiba di Pantai Mawun yang belum begitu banyak dikunjungi jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Lombok. Pantai yang terletak di Lombok Tengah ini berada di pesisir selatan Pulau Lombok. Garis pantainya berbentuk seperti tapal kuda, dengan dua bukit yang berada di sebelah timur dan barat. Pantainya berpasir putih serta bertekstur lembut. Pertama kali saya melihat, saya langsung terpukau dengan keindahannya. Kombinasi langit biru, desir ombak dengan besar yang sedang, pasir putih, dan latar perbukitan membuat Pantai Mawun menjadi tempat yang sangat keren. Rata-rata pengunjung yang saya lihat menghabiskan waktu berenang di tepian pantai atau sekedar bersantai dan mengabadikan momen melalui kameranya masing-masing.  Sepertinya Pantai Mawun lebih cocok untuk bersantai dan menikmati pemandangan.

Mawun Beach Mawun Beach

Saat itu saya tiba di Pantai Mawun hampir tengah hari sehingga cuacanya panas sekali. Bahkan pasirnya terasa menyengat. Saking panasnya, saya, Benino, dan Laura sempat mencari pepohonan seadanya (atau semacam tanaman yang cukup besar) untuk berteduh. Well, kami juga beberapa kali tidak dapat menahan diri untuk selfie di situ. Sedang asik-asiknya berganti pose, tiba-tiba Benino berteriak, “AH GUA NGINJEK APAAN INI!!!??”. Seketika saya dan Laura bergerak menghindarinya. Dugaan kami benar. Kaki kanan Benino tidak sengaja menginjak kotoran sapi yang besarnya luar biasa. Sepatu sneakers-nya sudah belepotan berwarna hijau tua dan reflek saya dan Laura malah menertawakan kejadian tersebut. Entah kenapa kami semua sama sekali tidak ada yang mencium bau kotoran tersebut sebelumnya. Hahahaha. Perjalanan masih panjang dan Benino sudah kena jackpot di pemberhentian pertama. What’s wrong with you, Ben?! LOL

IMG_5100 IMG_5109 IMG_5108

Setelah menghabiskan waktu membersihkan sepatu, kami bertiga diajak Mba Husnul untuk menikmati kelapa muda agar tidak begitu tersiksa dengan teriknya matahari siang itu. Dengan harga Rp 10.000,- saja per kelapa, saya mendapatkan kesegaran dan kelezatan kelapa muda yang memang tidak pernah salah kalau sudah di pantai!

Satu kekurangan di Pantai Mawun, fasilitas kamar mandi-nya yang kurang begitu baik. Terlebih, hanya tersedia masing-masing satu kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan. Padahal kalau di pantai, selain keperluan buang air, banyak juga yang perlu untuk membilas badan, dan mungkin membersihkan sepatu atau kakinya yang tidak sengaja menginjak kotoran sapi, sehingga antrian kamar mandi sangat panjang.

Okay, next! Kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Selong Belanak yang waktu tempuhnya kurang lebih hanya 30 menit dari Pantai Mawun, masih di daerah Praya, Lombok Tengah. Saya sebelumnya juga belum pernah mendengar tentang pantai ini. Mba Husnul bilang, Pantai Selong Belanak cocok untuk mereka yang mau belajar surfing karena ombaknya tidak begitu besar. Pantai ini memiliki garis pantai yang melengkung seperti bulan sabit dengan beberapa bukit di bagian ujungnya. Garis pantai yang panjang dengan hamparan pasir putih yang bersih membuat Selong Belanak tampak sangat cantik!

IMG_5075

IMG_5076 IMG_5078

Tidak banyak yang saya lakukan di Selong Belanak saat itu. Selain masih tertahan oleh teriknya matahari, kami bertiga memang tidak ada rencana bermain air selagi menunggu pesawat Ayu mendarat sorenya. Jadi kami hanya mengabadikan beberapa gambar pemandangan dan mengamati beberapa wisatawan yang sedang latihan surfing. Banyak tempat penyewaan papan selancar juga di sana. Di Selong Belanak juga banyak berjejer warung sederhana yang berjualan makanan dan minuman, sekaligus menjadi tempat untuk berteduh kalau sedang tidak ingin berjemur. Katanya, kebetulan saya ke sana bertepatan dengan musim liburan sehingga pantai lebih ramai dari biasanya. Kalau saat hari-hari biasa, Selong Belanak cocok untuk mencari suasana yang tenang.

IMG_5123IMG_5129

Jam sudah menunjukkan pukul 14:00 siang itu dan kami harus berangkat kembali ke bandara agar tiba tepat menyesuaikan jadwal landing-nya pesawat Ayu. Bye Selong Belanak!

Pukul 15:00, kami menjemput Ayu di bandara. Lengkaplah kami berempat. Sebelum melanjutkan perjalanan, perut kami sudah tidak dapat menahan lapar dan kami ingin mencoba makanan yang khas setempat. Mba Husnul merekomendasikan Nasi Puyung (some people call it Nasi Balap Puyung). Kebetulan, salah satu warung Nasi Puyung yang paling terkenal berada sangat dekat dengan Bandara Internasional Lombok, namanya RM Cahaya. Apa itu Nasi Puyung? Jadi, Nasi Puyung itu merupakan nasi dengan racikan suwiran daging ayam yang diolah bersama cabai, kacang kedelai, taburan udang kering, abon serta belut goreng, dengan tambahan rasa pedas bumbunya yang dijamin meninggalkan after taste pedas yang cukup lama.

Tujuan kami selanjutnya adalah daerah Senggigi. Kata orang, tidak lengkap kalau ke Lombok tidak mampir ke Senggigi. Dari rencana perjalanan, saya memang sengaja mengajak teman-teman untuk menginap di daerah Senggigi di hari pertama ini karena jaraknya lebih dekat ke Pelabuhan Bangsal, tempat untuk menyebrang ke Gili Trawangan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam dari daerah Praya, kami tiba di Senggigi dan langsung check-in di hotel yang sudah kami booking, di Sendok Hotel. Namanya lucu ya. Hotelnya sederhana dengan desain campuran tropis kebarat-baratan dan Bali. Letaknya persis di pinggir jalan utama, strategis, ada kolam renang, serta restoran dan bar. The atmosphere feels like home.

Tanpa berlama-lama setelah menaruh barang di kamar masing-masing, kami pergi ke Pantai Senggigi yang jaraknya sangat dekat dari tempat kami menginap tersebut. Kesan yang saya tangkap pertama kali melihat Pantai Senggigi adalah, ramai. Ya, dibandingkan dengan dua pantai yang saya datangi sebelumnya di hari yang sama, Pantai Senggigi sangat ramai sore itu. Mungkin memang kebetulan juga pas hari libur dan banyak orang yang ingin melihat sunset di sana. Jujur, badan sudah agak capek sore itu. Jadi kami hanya menghabiskan waktu untuk duduk di pinggir pantai, menikmati senja matahari terbenam. Itu sudah cukup!

IMG_5138 IMG_5139

Pantai Senggigi terletak di sebelah barat pesisir Pulau Lombok, termasuk dalam administrasi Lombok Barat. Selain tempat yang cocok untuk menikmati matahari terbenam, wisatawan juga bisa melakukan aktivitas air lainnya seperti surfing, kano, ataupun bahkan kalau tidak salah snorkeling juga ada. Oh iya, karena berhadapan dengan Selat Lombok yang berbatasan dengan Pulau Bali, kita bisa melihat Gunung Agung dari kejauhan selagi menikmati sunset tersebut sehingga pemandangannya menjadi lebih eksotis.

IMG_5163 IMG_5153

Malamnya, kami berjalan menyusuri kawasan Senggigi, supaya tidak rugi menghabiskan satu malam di sana. Sebagai pusat resort di Lombok, kawasan Senggigi dilengkapi dengan berbagai fasilitas akomodasi seperti restoran, kafe, diskotik, hotel maupun villa dengan harga yang bervariasi, dari yang mahal sampai yang berharga ekonomis. Kami berjalan di sepanjang jalan utama, mulai dari yang ramai kafe dan restoran, sampai masuk ke pasar seni, sampai sudah mulai daerah yang sepi. Menimbang harga makanan yang lumayan mahal, kami makan di warung tenda yang kami anggap lebih murah. Meskipun ujung-ujungnya ngga murah-murah banget karena banyaknya jenis makanan yang kami pesan. Di situ, Stevi, salah satu teman kami yang sudah lebih dulu berada di Lombok karena habis mendaki Gunung Rinjani bergabung ke rombongan kami. Ada cerita lucu di sini. Saya, Ayu, Benino, dan Laura sudah memesan makan duluan dengan berbagai macam menu seafood dan sepakat membagi biaya makan berempat. Ketika Stevi join, dia menambah pesanan seperti kepiting dan udang. Waktu mau membayar, saya yang menalangi dulu. Sekembalinya ke meja, kami heran koq makanan sebanyak itu hanya habis Rp 198.000,-. Ternyata tambahan pesanan Stevi belum masuk ke nota. Setelah pelayan memberikan nota pesanan Stevi, kami semua kaget dan tertawa kencang karena pesanan dia menelan biaya Rp 216.000,- sendiri. Apalah itu mahal, yang penting kenyang dan enak. (padahal menyesal). LOL. Oh iya, kami berlima juga sempat menghabiskan waktu di resto-nya Sendok Hotel yang kebetulan ada live music performance juga waktu itu sambil ngobrol macam-macam yang salah satunya membahas resolusi tahun 2015. And that’s all the overall story of my first day and we called it a night after a long talk.

Agenda hari kedua adalah menyebrang ke Gili Trawangan. Setelah bermalas-malasan di pagi hari, saya dan teman-teman berangkat ke Pelabuhan Bangsal pukul 08:30 dari hotel. Waktu tempuh sampai ke pelabuhan sekitar 30 menit. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti di Malimbu yang sekaligus menjadi view point dari ketinggian dimana kita bisa melihat tiga gili yang menjadi tujuan kami. Tidak sedikit rombongan turis yang juga berhenti di situ untuk mengabadikan momen. Pemandangannya memang bagus. A view from the top is always fascinating.

IMG_5190

Setibanya di Pelabuhan Bangsal, ada dua jenis kapal yang bisa dipakai untuk menyebrang. Ada fast boat dan slow boat. Perbandingan harga keduanya cukup jauh. Kalau mau pakai fast boat, maka dikenakan biaya Rp 100.000,-/orang dan waktu penyebrangan dapat dipastikan setiap 30 menit sekali. Kalau mau yang lebih murah, maka bisa pakai slow boat dengan harga Rp 18.000,-/orang sudah sama pajak dan baru bisa berangkat kalau kuota 35 orang per kapal terpenuhi. Tentu saja saya memilih slow boat. Sudah murah, kuota 35 orang juga cepat terpenuhi karena sedang musim liburan begini. Hanya 15 menit saja koq menyebrang dari Pelabuhan Bangsal sampai ke Gili Trawangan. Mungkin kalau pakai speed boat  waktu tempuhnya cuma 5 menit ya, but we’re not in a rush, so we chose slow boat #TeamCheap.

IMG_5196 IMG_5198

Sesampainya di Gili Trawangan, atmosfer yang terasa benar-benar berbeda. Turis asing dimana-mana, koridor jalan ramai pejalan kaki, sepanjang jalan banyak tempat nongkrong, kafe, bar, jasa tur, persewaan sepeda, dan tempat-tempat yang menawarkan atraksi diving, snorkeling, dan lain-lain. Suasananya sangat hidup! I was instantly excited, right the moment I felt the whole different  tropical atmosphere. Oh iya, sudah sejak lama di Gili Trawangan tidak diperbolehkan transportasi yang menggunakan mesin. Alternatif moda transportasi di sana selain sepeda adalah menggunakan Cidomo (sejenis delman) yang menurut saya kadang agak menyebalkan karena memakan jalan dan kecepatannya sedikit tidak santai.

IMG_5318 IMG_5223

Saya dan teman-teman menginap di Creative Home Stay. Tempatnya sangat sederhana, tapi kamarnya luas dan paling penting, bersih. Ada wi-fi dan dapat breakfast juga koq. Di situ, hanya kami berlima yang turis domestik, sisanya turis asing. Anyway, sepertinya di sini memang sangat bebas. Tetangga kamar kami bahkan tidak malu-malu berkeliaran di penginapan hanya mengenakan pakaian dalam. Awalnya memang kaget. Kalau pakai bikini atau pakaian renang mungkin masih dimaklumi karena daerah pantai, tapi pemandangan manusia-manusia setengah bugil dengan pakaian dalam seadanya berkeliaran di penginapan itu cukup mencengangkan. Hahahaha.

Setelah menaruh barang dan istirahat sebentar, kami berburu makan siang waktu itu. Banyak sekali pilihan tempat makan di Gili Trawangan. Hampir semuanya terlihat fancy karena didukung dengan persaingan tiap pemilik restoran mendekorasi tempat makannya semenarik mungkin. Siang itu kami makan di Rudy’s Pub and Restaurant karena tertarik dengan tempatnya yang asik (dan harganya yang terhitung murah). Kami memilih tempat dengan view langsung ke pantai. Bisa berjemur juga di situ! But anyway, makanannya enak!

IMG_5210 IMG_5219

Setelah makan siang dan bersantai sebentar, kami mencari jasa tur snorkeling keliling tiga gili di situ. Ada banyak operator snorkelling di sepanjang jalan utama, dengan rentang harga Rp 100.000 – 150.000. Kalau mau lebih murah biasanya ikut paket rombongan yang start jam 10 pagi. Kalau ngga bisa ikut jadwal tersebut tetap bisa koq tapi biasanya jadi sedikit lebih mahal. Waktu itu karena saya dan teman-teman baru start pukul 14:00, kami dikenakan harga Rp 150.000,- sudah termasuk perlengkapan standar snorkel yaitu kacamata, snorkel, jaket pelampung, dan fin.

Gili Trawangan adalah salah satu deretan pulau kecil di bagian utara pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gili sendiri sebenarnya berarti pulau kecil. Selain Gili Trawangan, ada Gili Air dan Gili Meno yang jaraknya lebih dekat dengan Pulau Lombok. Di antara yang lain, Gili Trawangan adalah gili yang paling hidup dan dilengkapi dengan fasilitas hiburan paling lengkap. Konon katanya kalau yang mau menghabiskan waktu atau menginap di Gili Air dan Gili Meno yang suasanya jauh lebih tenang dan private, harus menyewa penginapan atau vila resort yang harganya cukup tinggi.

Personally, I wasn’t really impressed by the underwater view in Gili islands. Banyak terumbu karang yang rusak dan jenis ikan lautnya juga tidak begitu banyak. Selain itu, airnya juga tidak begitu jernih entah karena efek musim hujan atau biasanya juga begitu. Meski demikian, saya tetap menikmati pemandangan bawah laut di sana. Terlebih, kami sudah menyewa kamera anti air yang kami gunakan untuk mengabadikan berbagai momen bawah laut. Selama bermain di perairan tiga gili tersebut, saya memutuskan tidak menggunakan life jacket karena justru menyulitkan saya untuk mengambil gambar-gambar bawah laut. Ternyata pegal juga snorkeling tanpa life jacket. Oh ya, saya juga sempat melihat penyu yang sedang bermalas-malasan di dasar laut, sedang bermain-main dengan ikan-ikan. Lucu sekali!

DSCN9815 DSCN9824 DSCN9753 DSCN9781

DSCN9841

Banyak yang bilang Gili Trawangan itu semacam hidden paradise. Ada juga yang bilang Gili Trawangan itu party island. Intinya, Gili Trawangan itu memang tempat untuk liburan banget. Banyak option hiburan yang bisa dipilih di sini. Malamnya, setelah menelusuri jalanan utama, kami berlima makan di Ocean 2 Restaurant sebelum akhirnya melanjutkan nonton bola di XL Shisha Lounge sampai tengah malam. Saking makin malamnya kami di sana karena ada beberapa pertandingan berurutan disiarkan, Ayu, Laura, dan Stevi memutuskan pulang duluan karena sudah tidak dapat menahan kantuk dan ingin segera tidur. Saya dan Benino melanjutkan menghabiskan waktu di sana, bermain stacko game, dan menyempatkan menelusuri jalanan utama tengah malam itu sebelum kembali ke penginapan.

Hampir setiap malam ada party yang ramai. Beberapa tempat party yang terkenal ada Tir Na Nog – Irish Bar, SamaSama Reggae Bar, dan ada lagi namanya Rudy’s yang menjadi tempat makan siang kami sebelumnya. Selain itu masih banyak pilihan untuk menghabiskan malam di Gili Trawangan. Banyak cafe, bar, restaurant yang menyajikan live music sebagai unsur hiburannya. All I can say, malam di Gili Trawangan nggak pernah sepi!

IMG_5261

Di pagi hari ketiga, sekitar pukul 08:00, kami menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau. Saking semangatnya, kami bahkan mengesampingkan sarapan. Bisa nanti setelah kembali ke penginapan. Kami dikenakan biaya sewa sepeda Rp 15.000,-/ jam karena tidak menyewa harian. Tapi perlu diketahui, ada beberapa jalan di Gili yang masih berpasir sehingga ada beberapa jalur yang mengharuskan kita untuk menuntun sepeda. Kurang lebih kami hanya menghabiskan waktu satu setengah jam mengelilingi Gili Trawangan. Secara pribadi, saya sangat menikmati bersepeda mengelilingi pulau. Saya agak memisahkan diri dari teman-teman dan mengendarai sepeda di belakang mereka, mengayuh lebih santai. I really enjoyed the feeling of experiencing and exploring new things on my own, free and peaceful. Banyak pemandangan indah dan menarik sepanjang perjalanan. Terlebih lagi, banyak spot yang lebih tenang dan sepi dibandingkan pusat aktivitas di Gili Trawangan yang sering disebut Sentra yang dekat dengan dermaga.

IMG_5272 IMG_5305IMG_5304IMG_5287Puas menikmati pemandangan dan sekaligus olahraga santai, kami kembali ke hotel dan menikmati sarapan banana pancake yang lezat dengan orange juice yang segar! Setelah mandi dan packing, kami menuju dermaga dan membeli tiket penyebrangan ke Pulau Lombok dengan harga yang sama, Rp 18.000,-/ orang sudah dengan pajak. Saya sudah menghubungi Pak Ramli, driver yang akan menjemput kami dan mengantarkan kami berkeliling Mataram hari itu. Target kami hari ini adalah meng-explore budaya lokal di sana dan mengunjungi beberapa pantai lain. Namun sebelumnya, kami harus mengisi perut dulu dan seperti yang sudah direncanakan, kami memilih makan siang di Rumah Makan Ayam Taliwang – Irama yang terkenal. Saya sendiri sih sebelumnya tidak tahu rumah makan ayam taliwang mana yang terkenal, tapi menurut informasi Laura dari teman-temannya dan juga dikonfirmasi dengan Pak Ramli, para wisatawan biasanya memilih RM Ayam Taliwang – Irama tersebut. Mungkin karena memang sudah terkenal, harga makanan di sana juga terhitung tidak murah. Meski demikian, rasa dan porsi yang ditawarkan memang worth it! Saya mencoba ayam bakar madu-nya dengan rasa pedas manis yang enak sekali!

Next, kami menuju Desa Sukarara, tempat wisata tenun Lombok. Desa ini terkenal sebagai penghasil kain tenun tradisional Pulau Lombok. Kehidupan penduduknya mayoritas dilewatkan dengan mengoperasikan alat tenun. Perempuan lokal di desa tersebut wajib hukumnya untuk bisa menenun. Bahkan katanya kebanyakan perempuan di desa tersebut menghabiskan waktu 7 jam sehari untuk menenun. Hal ini juga dikarenakan tuntutan untuk menghasilkan kain tenun murni yang bisa menghabiskan waktu 2-4 bulan untuk kain sepanjang 2 meter, tergantung tingkat kerumitan polanya. Laura dan Ayu juga sempat mencoba proses menenun kain tradisional Lombok tersebut. Jika berminat, banyak hasil tenun yang dijual langsung di sana. Selain kain, ada juga pakaian tradisional, taplak meja, selimut, dan selendang dengan motif-motif yang menarik serta tenunan berkualitas. Saya selalu ingat Mama setiap melihat kain tradisional seperti itu. Alhasil saya membeli satu kain tenun sebagai oleh-oleh untuk Mama di Jakarta.

IMG_5481

Pemberhentian berikutnya adalah Desa Wisata Dusun Ende, tempat bermukimnya Suku Sasak, suku asli masyarakat Pulau Lombok. Biasanya wisatawan akan diarahkan ke Desa Sade untuk yang tertarik dengan kebudayaan Suku Sasak, tapi Pak Ramli membawa kami ke Dusun Ende tersebut karena menurutnya dusun tersebut lebih orisinil dan tidak begitu komersil. Ende merupakan dusun yang masih bersifat tradisional. Penduduk dusun ini menjalani aktivitas sehari-hari dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhurnya.

IMG_5485 IMG_5484

Dusun Ende yang kami kunjungi sepertinya tidak terlalu luas sehingga tidak memakan waktu lama untuk melihat-lihat dusun tersebut. Salah satu fokus wisatanya adalah rumah tradisional Suku Sasak yang beratapkan alang-alang yang menjadi ciri khas tersendiri. Atap rumah yang dibuat miring memang disengaja agar para tamu yang mengunjungi rumah harus menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada sang pemilik rumah. Salah satu nilai adat yang menarik adalah pembagian hak laki-laki dan perempuan terhadap ruang rumah dimana perempuan berhak tidur di dalam rumah, sedangkan laki-laki tidur di teras (yang mereka hitung juga sebagai kamar). Unsur menarik lainnya adalah lantai tanah yang secara periodik dilapisi dengan kotoran kerbau agar lantainya keras seperti disemen. Konon kata guide lokal, warga setempat asli Suku Sasak juga, kotoran kerbau dengan campuran abu jerami dan tanah liat bisa mengatur suhu di dalam ruangan dan juga di teras rumah. Jika cuaca hujan, lantai akan terasa hangat dan jika cuaca panas, lantai akan memberikan suasana dingin dan sejuk. Tradisi menarik lainnya adalah kawin lari. Dalam tradisi ini, pihak pria membawa lari wanita yang disukainya. Ini dilakukan tanpa diketahui oleh orangtua si wanita. Pelarian yang dilakukan biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelah itu, orang tua wanita akan menebus untuk membicarakan kelanjutan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Sebelum meninggalkan Dusun Ende, ada tips yang harus diberikan ke guide dan juga sumbangan untuk kas desa adat dengan nilai seikhlasnya. Setelah itu, barulah saya dan teman-teman meluncur ke Pantai Kuta, Lombok. Namanya memang sama persis dengan salah satu pantai terkenal di Bali, namun suasana dan pemandangan alam yang dimiliki sangat berbeda. Pantai Kuta berada di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Pantai ini memiliki garis pantai sepanjang 7,2 km dengan hamparan pasir putih. Latar tebing yang eksotis menjadi pemandangan favorit saya. Sayangnya, saat saya ke sana, tepian pantainya agak kotor. Mungkin efek sehabis hujan yang membuat ombak membawa beberapa sampah laut seperti sisa rumput laut dan ranting-ranting terbawa ke tepian.

IMG_5340 IMG_5344

Kami tidak berlama-lama di Pantai Kuta. Pak Ramli bilang, ada pantai yang lebih bagus, namanya Pantai Seger. Jaraknya tidak jauh dari Pantai Kuta. Sebenarnya, Pantai Kuta, Pantai Seger, dan Tanjung Aan berada di satu teritori yang sama, dan sepertinya memiliki garis pantai yang sama juga. Di perairan tersebut sering dikaitkan dengan cerita legenda tentang Putri Mandalika. Pak Ramli juga sempat bercerita tentang cerita kuno masyarakat setempat, tentang seorang putri bernama Mandalika. Konon katanya Putri Mandalika melompat ke laut dari salah satu bukit di perairan Desa Kuta karena menghindari kejaran pangeran-pangeran yang berebutan untuk menikahinya. Selanjutnya mitos mengatakan bahwa Puteri Mandalika bereinkarnasi menjadi “Nyale”, atau cacing laut. Di setiap bulan Februari, daerah Kuta, Lombok ini akan ramai dipadati wisatawan lokal maupun asing karena ada ritual Bau Nyale dimana cacing-cacing laut akan bermunculan dari perairan dan orang-orang akan berebutan untuk menangkapnya dan dijadikan makanan lokal (tidak dijual).

IMG_5354

Anyway, saya suka Pantai Seger! Di luar keindahannya, pasirnya yang unik seperti butiran merica, perairannya yang tenang (meski ada beberapa bagian pantai yang ombaknya cukup pas untuk surfing), serta pemandangannya yang luar biasa, saya paling suka dengan ketenangannya. Mungkin saya sudah terlalu bosan dengan hiruk pikuk Jakarta ataupun keramaian yang saya temui setiap hari sehingga suasana tenang menjadi hal yang paling saya cari kala itu. Di salah satu bagian Pantai Seger, saya berjalan menyusuri tepian pantai, menikmati pemandangan dan angin sore hari. Seketika lagu Dewi Lestari yang berjudul ‘Aku Ada’ terngiang terus-terusan di kepala saya.

“Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku andai engkau tahu

Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi
Akulah lautan memeluk pantaimu erat” ~ Aku Ada (Dewi Lestari ft. Arina Mocca)

IMG_5362 IMG_5365

Meskipun agak mendung, Pantai Seger menjadi salah satu spot favorit saya di liburan kemarin. Oh iya, saya langsung jatuh hati dengan sebatang pohon yang berdiri sendiri di tengah perairan, dekat dengan pinggir pantai. Saya memang selalu suka pohon yang sebatang kara seperti itu. Rasanya tidak perlu filosofi atau analogi yang perlu menjelaskan kenapa. Saya suka saja, dari dulu.

Tidak jauh dari situ, masih di kawasan Pantai Seger, ada view point yang menawarkan pemandangan yang bagus sekali. Jadi kita bisa melihat pemandangan perairan dari ketinggian. Di tambah lagi, matahari sudah mulai berwarna kejinggaan menjelang sunset. Di tengah keseruan teman-teman yang lain yang berfoto-foto, saya lebih memilih menikmati pemandangan yang luar biasa, sesekali memejamkan mata sambil merasakan angin berhembus. Tebing ini tempat yang sangat cocok untuk menenangkan diri. Di Jakarta ngga ada yang seperti ini ya?

IMG_5392IMG_5399IMG_5409Belum puas menghabiskan waktu di sana, Pak Ramli mengajak untuk sedikit turun dan menikmati sisi Pantai Seger yang lain. Di antara pantai-pantai yang lain, Pantai Seger ini memang yang paling tenang. Duduk santai sambil mendengarkan suara ombak itu sudah cukup.

IMG_5422

IMG_5433

Tidak terasa, hari ketiga sudah hampir berakhir. Kami menginap di Hotel Fortune di daerah Cakranegara, Mataram. Hotelnya bersih dan letaknya strategis. Dekat dengan mall dan gampang kalau mau cari makanan atau fasilitas lainnya. Meski demikian, malam itu kami semua ingin mencoba yang namanya Sate Rembiga yang kata Laura terkenal. Setelah tanya sana sini, ternyata sate rembiga hanya dijual di daerah dekat dengan bandara lama, di daerah Selaparang. Akhirnya kamipun bela-belain naik taxi menuju tempat yang menjual sate rembiga tersebut. Hanya habis Rp 20.000,- koq dari daerah Cakranegara sampai ke Selaparang. Nama Rembiga sendiri diambil dari nama daerah yang sama di Selaparang. Sate yang berbahan utama sapi ini rasanya sangat lezat, perpaduan antara gurih, manis dan pedas. Tanpa menggunakan bumbu kacang, sate rembiga dengan bumbu khasnya yang sudah meresap ke daging terasa enak sekali dan menjadi penutup malam yang perfect.

Di hari terakhir, fokus kami adalah mencari oleh-oleh. Pak Ramli mengantarkan kami ke tempat oleh-oleh yang saya tidak hapal namanya. Dimulai dari tempat oleh-oleh yang khusus menjual makanan, dilanjut ke oleh-oleh pakaian. Biasanya, saya bukan traveler yang peduli dengan oleh-oleh. Justru biasanya saya membeli barang-barang untuk diri saya sendiri. Semakin ke sini saya merasa ada tanggungan untuk membelikan sesuatu untuk orang di rumah. Di tambah lagi untuk rekan-rekan kerja saya di kantor. Tapi tetap saja, saya lebih fokus mencari barang-barang untuk saya sendiri hahaha. Oh iya, kalau mau beli oleh-oleh pakaian yang kualitasnya lumayan bagus, bisa coba ke Gandrung atau Sasaku ya.

Sebelum tiba di bandara, kami sempat mampir ke Desa Banyumulek yang khas dengan kerajinan tanah liat dan gerabahnya. Selain melihat beragam hasil seni yang sekaligus diperjualbelikan tersebut, kita juga bisa belajar dan ikut serta dalam proses pembuatannya. Saya, Ayu, dan Laura menyempatkan untuk mencoba membuat beberapa kerajinan gerabah dari tanah liat. Prosesnya benar-benar tanpa menggunakan alat canggih untuk memastikan presisi ukuran, diameter, dan sebagainya. Semua pengerajin di sini memang sudah terbiasa membuat kerajinan gerabah dari kecil sampai saat ini dapat membuat vas bunga, gentong, berbagai bentuk celengan, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Hasil kerajinan saya sebenarnya 85% adalah hasil dari ibu-ibu penduduk lokal yang mengajari dan membimbing saya dalam membuat entah asbak atau mangkuk kecil berhiaskan dua ekor bebek dan inisial A. Lucunya, kami terpaksa harus membawa-bawa hasil kerajinan gerabah kami bertiga yang belum kering itu ke bandara. Cuaca agak gerimis siang itu. Padahal biasanya cukup waktu satu jam untuk mengeringkan tanah liat tersebut.

IMG_5522Stevi sudah pulang lebih dulu saat subuh dengan tujuan ke Yogyakarta. Jadi, siang itu, saya, Laura, dan Benino dengan tujuan kepulangan ke Jakarta juga harus berpisah penerbangan dengan Ayu yang pulang ke Semarang. Overall, liburan akhir tahun ke Lombok ini memang menyenangkan. Terlebih saya memang belum pernah sekalipun ke sana. Discovering new places and experiencing new things always make me feel good and happy. Selain itu, dari perjalanan kali ini saya juga menyadari ternyata saya lebih menikmati tempat-tempat yang tenang dibandingkan keriuhan. Bukan berarti saya tidak bisa enjoy dengan keramaian yang sering saya temukan di Jakarta, tapi mungkin saya perlu lebih menyeimbangkan diri lagi untuk hal ini meski tidak ada tempat seperti Pantai Seger di Jakarta. I should give myself peace and quiet for a good hour.

“In the attitude of silence the soul finds the path in an clearer light, and what is elusive and deceptive resolves itself into crystal clearness.  Our life is a long and arduous quest after Truth.”  ~ Mahatma Gandhi

Advertisements

2 thoughts on “Discovering Lombok in December

  1. Mantap
    tapi kayaknya gak sempat photo’an ya di monument patung putri mandalike di Pante seger tu, pas disamping jembatan kayu tu 😀

    Next time lok kelombok kstau ya 😀
    rumah saya dekat Bandara 🙂
    salam kenal.

    1. Halo GDEADHY. Salam kenal juga.

      Sebenarnya ada foto Patung Putri Mandalika, tapi tidak saya upload karena terlalu ramai orang waktu itu. Jadi kurang puas sama hasilnya hehe. Semoga bisa ke Lombok lagi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s