Have Some Local History Learning at ‘Gua Sunyaragi’, Cirebon

Tidak lama ini, saya kembali mendapat tugas dari kantor untuk mengurus pekerjaan di Kota Cirebon. Kebetulan ada satu proyek kantor yang berakhir sehingga dilaksanakan semacam kegiatan simbolis penutupan selesainya proyek di sana. Dengan dilaksanakannya closing event tersebut, saya dan tim diberi waktu lebih lama untuk berada di salah satu kota di Jawa Barat tersebut. More time means I have spare time to explore a bit more of this city.

Pada waktu berpergian dari hotel ke lokasi proyek, saya dan tim beberapa kali melihat suatu tempat di tengah kota yang cukup menarik perhatian. Setelah menanyakan pada sopir yang kami sewa selama di sana, dia menyebutkan nama Taman Sari Sunyaragi, menjawab pertanyaan kami. Tahu bahwa ada satu hari lebih yang dapat kami manfaatkan untuk jalan-jalan, saya dan tim sepakat untuk mengunjungi tempat tersebut.

Orang setempat menyebutnya ‘Gua Sunyaragi’. Nama resmi yang tercantum pada papan penanda kawasan tersebut adalah ‘Taman Sari Gua Sunyaragi’, yang terletak di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon. Nama ‘Sunyaragi’ berasal dari bahasa Sansekerta, terdiri dari kata ‘sunya‘ yang artinya sepi dan ‘ragi‘ yang berarti raga. Berdasarkan informasi, Gua Sunyaragi yang telah dimasukkan sebagai Benda Cagar Budaya ini merupakan sebuah kompleks situs sejarah seluas 1,5 ha yang dibangun pada tahun 1703 oleh Pangeran Kararangen atau Pangeran Arya Carbon. Konon katanya, tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

Setelah membayar biaya retribusi (kalau tidak salah Rp 8.000,- atau Rp 10.000,-), kita dapat melihat sebuah panggung budaya terbuka. Dapat ditebak bahwa panggung tersebut dapat dijadikan tempat pementasan berbagai kesenian daerah Cirebon. Kursi penonton dibuat seperti layaknya sebuah theater terbuka. Saya membayangkan suatu pertunjukan yang indah dan eksotis dibawakan di bawah sorot langit luas ini.

DSC01064

Setelah melewati bagian tempat pertunjukan, kita akan melihat ‘atraksi’ utama dari situs ini, yaitu gua-gua dengan tatanan struktur bebatuan yang unik. Secara sepintas, gua tersebut seperti dibentuk dari serpihan batu dengan tekstur kasar. Selain itu, ada sentuhan arsitektur Hindu yang terlihat dari adanya gapura-gapura kecil di sana.

DSC01073 DSC01061

Menurut informasi, ada 12 gua di sana, namun hanya ada beberapa gua utama yang fungsinya cukup penting pada zamannya. Gua utama disebut dengan Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. Selain itu ada Gua Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk tempat membuat senjata dan sekaligus tempat penyimpanannya. Lalu ada Gua Pawon yang digunakan untuk tempat perbekalan dan makanan prajurit. Gua Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Lalu ada juga yang disebut sebagai Gua Padang Ati (Hati Terang) yang digunakan khusus sebagai tempat bertapa para Sultan.

DSC01080 DSC01092DSC01099DSC01112

Salah satu aktivitas utama yang dapat dilakukan di situs ini, dan menurut saya cukup menarik, adalah menjelajahi gua-gua tersebut dengan memasuki lorong-lorong yang pada beberapa bagian saling terhubung. Bagi yang berbadan besar atau tinggi seperti saya harus lebih berhati-hati agar tidak terbentur tekstur bebatuan gua yang cukup tajam. Di luar itu, adanya semacam kolam yang mengelilingi kompleks gua tersebut serta adanya beberapa ornamen patung juga menambah keindahan Taman Sari Sunyaragi.

DSC01086  DSC01106 DSC01113 DSC01114

Meski tidak begitu banyak aktivitas fisik yang dapat dilakukan di sini, setidaknya Taman Sari Gua Sunyaragi layak untuk dikunjungi jika mampir ke Cirebon !

Oh ya, just for tips. Kalau memang menginap di daerah dekat stasiun dan mau menikmati karakter lokal, maka dapat menggunakan becak jika mau menuju ke Gua Sunyaragi ini. For your reminder, ukuran becak di Cirebon ini lumayan kecil. Jadi, kalau becak dinaiki dua orang dewasa saja sudah pasti akan berdesak-desakan. Leher saya lumayan pegal karena terhalang atap becak dan perjalanan memakan waktu 20 menit. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya memilih menggunakan mobil rental untuk menuju kembali ke hotel.

Advertisements

One thought on “Have Some Local History Learning at ‘Gua Sunyaragi’, Cirebon

  1. Tahun lalu sempat ke Cirebon, dan melewatkan gua legendaris satu ini, karena waktunya yang mepet. Selain itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi panas banget kalau siang-siang jalan ke sini.

    Postingan ini membuat saya membayangkan kira-kira seperti apa ya kehidupan di gua tersebut ketika dalam masa berfungsinya.

    PR nih, harus balik lagi ke Cirebon. Mengunjungi objek-objek lain yang masih jadi hutangan, termasuk gua satu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s