Spend Your Time, Take a Walk at Mangrove Forest, Tarakan

DSC04330

Salah satu tempat favorit saya setiap berkunjung ke Tarakan adalah Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Terletak di tidak jauh dari pusat kota, berjalan menyusuri kerimbunan hutan mangrove ini selalu membuat saya merasa santai. Mungkin memang betul, warna hijau secara psikologis dapat membuat kita lebih relaxFor me, personally, love this place because there are a lot of beautiful views to capture with my camera!

DSC04281

Hutan bakau atau hutan mangrove adalah hutan di lahan rawa payau yang dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini umum dijumpai di pantai teluk yang terlindung dari ombak besar atau di muara sungai di mana sedimentasi lumpur terbentuk. Tidak banyak jenis spesies tumbuhan yang dapat tumbuh baik pada ekosistem hutan bakau ini, karena harus mampu beradaptasi pada kondisi pantai berlumpur (tergenang atau jenuh air, sehingga aerasi tanahnya buruk dan miskin oksigen), pengaruh salinitas tinggi dari air laut, dan terpaan ombak. (source: Benyamin Lakitan)

DSC04285

Menurut informasi, pengembangan kawasan hutan mangrove di Kota Tarakan ini diinisiasi oleh Walikota menjabat pada periode 1999-2009, Dr. H. Yusuf Serang Kasim. Beliau mendorong pengembangan kawasan konservasi hutan mangrove ini dengan reboisasi dan penghijauan, termasuk melengkapinya  dengan beberapa jenis mangrove, bekantan, dan kepiting payau. Konon katanya, dulu Tarakan memang memiliki ekosistem mangrove yang luas dan lebat, namun banyak digantikan oleh permukiman yang memang cukup sulit dihindari dengan adanya migrasi ke kota yang sekarang menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Utara ini. Saya sendiri sangat mengapresiasi gagasan dan perhatian Walikota saat itu yang lebih dikenal dengan nama Bapak Yusuf SK untuk berinisiatif mengembalikan dan mengembangkan hutan mangrove yang dengan sadar atau tidak sadar mempertimbangkan Kota Tarakan sebagai kota pulau di Indonesia. Tidak dapat disangkal lagi, kota pulau jelas rentan terhadap perubahan iklim.

Kawasan hutan mangrove seluas kurang lebih 22 Ha saat ini telah berkembang menjadi objek wisata kebanggaan Kota Tarakan. Selain otomatis menjadi paru-paru kota, hutan mangrove menjadi habitat alami berbagai jenis pohon bakau dan ditambah fauna-fauna khas Tarakan. Mangrove yang ada bahkan sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Variasi jenis mangrove di KKMB ini cukup bermacam-macam, mulai dari Rhizophora spp., Avicennia spp., Sonneratia spp, dan lain-lain. Saya sendiri tidak hapal betul dan paham secara mendalam detil karakteristik dari jenis-jenis mangrove. Yang pasti, fungsi utama hutan bakau adalah untuk melindungi pantai dari abrasi atau pengikisan dan sekaligus menjadi habitat utama bagi beberapa spesies fauna.

Quick fact: Luasan satu hektar mangrove mampu menyerap 1,5 metrik ton karbon setiap tahunnya (Source: International Union for Conservation of Nature)

DSC04266  DSC04249  DSC04257  DSC04248

DSC04259  DSC04276 DSC04270 DSC04319

Seperti namanya, KKMB ini juga terkenal sebagai habitat kera bekantan yang menjadi fauna khas Kota Tarakan. Beberapa dari kita mungkin familiar dengan ikon wahana bermain Dunia Fantasi (Dufan) yang khas dengan hidung besar berbentuk seperti buah jambu. Nah, ikon Dufan itu adalah kera bekantan yang bagi sebagian orang sangat lucu, dan sebagian orang lainnya mungkin menganggap sebaliknya. Bekantan ini pada dasarnya punya karakter pemalu. Saran dari orang setempat, kalau mau melihat bekantan baiknya di pagi hari. Terakhir saya berkunjung, saya baru sempat ke sana sore hari dan cukup beruntung masih bisa melihat segerombolan bekantan yang bersembunyi di balik-balik pohon. Melihat tingkah bekantan yang malu-malu dan sesekali lompat berpindah pohon dapat menjadi hiburan yang cukup menarik!

DSC04231  DSC04230  DSC04228 DSC04238

Seingat saya, di KKMB ini juga ada papan informasi yang menyebutkan daftar fauna yang ada di sana. Saya sendiri tidak hapal petul jenis spesiesnya. Beberapa yang saya ingat dan sempat saya temui langsung juga di antaranya ada kera ekor panjang, beberapa jenis laba-laba, kepiting kecil berwarna-warni, ikan yang memiliki sirip hampir seperti kaki yang saya tidak tahu namanya, lalu ada kadal-kadal kecil, dan lain-lain. Ada juga beberapa jenis burung yang dilindungi di dalam kandang seperti elang bondol.

DSC04310 DSC04300

KKMB jelas menjadi objek wisata edukatif yang unggul di Kota Tarakan. Cukup dengan membayar Rp 3.000,- untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak, atau Rp 5.000 untuk turis asing (murah kan?), maka kita dapat berjalan-jalan dengan santai di kawasan hijau yang terletak strategis di kota pulau ini. Oh ya, ada beberapa souvenir menarik dengan karakter bekantan juga dijual di pintu masuk.

DSC04331

Anyway, what I’m trying to point out is that mangrove is really important for our global ecosystem. Hutan mangrove dengan semua keanekaragaman hayatinya terbukti menjadi salah satu bentuk respon nyata terhadap dampak perubahan iklim. Para peneliti ekologis sepakat bahwa hutan mangrove atau bakau berkontribusi sangat besar dalam menyerap karbon dioksida. Selain itu, hutan mangrove terbukti efektif mendukung proteksi pesisir. Diperlukan regulasi yang dapat secara tegas melindungi dan memperluas mangrove di daerah pesisir dengan karakter yang mendukung dikembangkannya ekosistem mangrove tersebut.

DSC04286

DSC04325

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s